Pengertian Verba Pewarta dan Contohnya

Pada pembelajaran bahasa Indonesia, sering kita menjumpai beragam jenis verba.

Salah satunya adalah verba pewarta.

Berbeda dengan verba transitif, verba intransitif, verba material, dan verba tingkah laku yang sudah kita ketahui. Jenis verba pewarta memang agak asing di telinga kita.

Namun sebenarnya kita sering menemukan verba pewarta atau menggunakan jenis verba tersebut.

Singkatnya, verba atau kata kerja merupakan kata yang menyatakan makna perbuatan, pekerjaan, tindakan, proses, atau keadaan.

Verba biasanya menempati fungsi predikat dalam kalimat.

 Pengertian Verba Pewarta

Verba pewarta adalah kata kerja yang digunakan untuk mengindikasikan suatu percakapan. Verba pewarta menjadi salah satu ciri kaidah kebahasaan pada teks berita, hal ini dikarenakan pada teks berita terdapat keterangan, verba pewarta, dan verba transitif sebagai ciri kaidah kebahasaan lainnya.

Verba pewarta memiliki ciri yang berbeda dengan jenis verba yang lainnya.

Ciri khas dari verba pewarta di antaranya:

  • Verba pewarta digunakan untuk mengindikasikan suatu percakapan.
  • Verba pewarta merupakan salah satu ciri kebahasaan dari teks berita.
  • Verba pewarta memiliki sifat memberi tahu kepada orang lain atau masyarakat luas.
  • Contoh verba pewarta adalah kata yang memiliki sifat mewartakan.

Contoh kata tersebut di antaranya mengatakan, memaparkan, menjelaskan, memberitakan, menuturkan, menyampaikan, mengungkapkan, menyatakan dan sebagainya.

Contoh Verba Pewarta

Agar lebih mudah dalam memahami kata kerja pewarta, di bawah ini beberapa contoh penggunaan kata kerja pewarta dalam kalimat.

1. Kata Mengatakan

Kalimat: Pemenang Nobel dan ahli biofisika Michael Levitt mengatakan bahwa peningkatan jumlah kematian terkait kasus covid-19 akan terus berkurang dari hari ke hari.

2. Kata Memaparkan

Kalimat: William B. Grant, seorang peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan di California memaparkan bahwa sinar UVA memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko melanoma alias kanker kulit dibandingan dengan UVB.

3. Kata Menjelaskan

Kalimat: Penata Rambut Diane Stevens menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan yang kaya vitamin A, B, dan C dapat membantu memastikan kulit kepala tetap sehat. Nutrisi ini sangat penting untuk sistem peredaran darah dan pertumbuhan sel, serta mendukung sistem kekebalan tubuh yang membantu melawan ketombe.

4. Kata Memberitakan

Kalimat: PT PLN (Persero) memberitakan bahwa tagihan listrik bulan April akan dihitung dari pemakaian rata-rata 3 bulan terakhir. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran wabah virus corona, sehingga pencatatan dan pemeriksaan stand meter pelanggan ditangguhkan sementara waktu.

5. Kata Menuturkan

Kalimat: Tim pelatih Madura United menuturkan bahwa ia tidak khawatir membiarkan para pemainnya berlatih secara mandiri tanpa pengawasan. Tim pelatih hanya memberikan satu tugas selama masa libur sebelum kegiatan tim dihentikan sementara.

6. Kata Menyampaikan

Kalimat: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyampaikan bahwa pendaftaran Kartu Pra Kerja dibuka pada bulan April 2020. Pada tahap awal akan dilakukakn untuk sosialisasi ke masyarakat.

7. Kata Mengungkapkan

Kalimat: Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, mengungkapkan bahwa hingga saat ini total jumlah pasien Covid-19 di Indonesia mencapai 790 kasus.

8. Kata Menyatakan

Kalimat: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiwo menyatakan kondisi tukar rupiah mulai menguat dan stabil sejak Selasa (24/03/2020) lalu. Pelemahan rupiah saat ini berbeda eskalasinya dibandingkan tahun 1998.

Demikian pembahasan terkait verba pewarta beserta contohnya. Semoga kalian bisa memahami materi tersebut dengan mudah dan menambah ilmu pengetahuan tentang bahasa.

Verba Material dan Verba Tingkah Laku

Dalam teks bahasa Indonesia, penggunaan verba material dan verba tingkah laku cukup sering kita temui. Di antaranya terdapat pada teks prosedur kompleks, teks eksposisi, dan teks cerita sejarah.

Untuk mengetahui perbedaan antara verba material dan verba tingkah laku, mari kita dalami keduanya.

Verba atau kata kerja merupakan kata yang menyatakan makna perbuatan, pekerjaan, tindakan, proses, atau keadaan.

Verba merupakan bagian penting dalam kalimat.

Verba biasanya menempati fungsi predikat dalam kalimat.

Pengertian Verba Material dan Verba Tingkah Laku

Berikut ini penjelasan tentang verba material dan verba tingkah laku.

Veba Material

Verba Material adalah kata kerja yang menyatakan suatu tindakan atau perbuatan.

Kata kerja ini banyak digunakan dalam aktivitas berbahasa karena menunjukkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh objek yang sedang diperbincangkan.

Struktur kalimat dengan verba material adalah sebagai berikut:

Subjek + Verba Material + Objek

Contoh dalam kalimat:

Ardiansyah (Subjek) menjenguk (Verba Material) Irwan (Objek)  yang sedang sakit (Pelengkap) di rumah sakit (Ket. Tempat)

Contoh penggunaan verba material dalam kata dan kalimat:

KataKalimat
MelihatAyah melihat buah mangga yang sudah matang di pohonnya.
MengambilKakak mengambil tangga yang tergeletak di gudang.
MemasakAdik memasak sayur bayam kesukaanku.
MenjualTukang sayur itu juga menjual berbagai buah-buahan segar.
MengangkatRaisa mengangkat jemuran yang sudah kering.

Verba Tingkah Laku

Verba tingkah laku adalah kata kerja yang mengacu pada tindakan yang dilakukan dengan ungkapan (bukan sikap mental yang tidak tampak).

Tindakan dengan ungkapan ini maksudnya lebih pada sesuatu yang sulit untuk dilihat secara langsung atau secara fisik.

Verba tingkah laku memiliki karakteristik kata kerja yang mengacu pada ungkapan. Selain itu, kata kerja tingkah laku mengacu pada respon subyek berupa sikap yang diungkapkan setelah tindakan.

Verba tingkah laku mengacu pada sesuatu yang sulit dilihat secara langsung atau secara fisik.

Contoh penggunaan verba tingkah laku dalam kata dan kalimat:

KataKalimat
MemikirkanNaila selalu memikirkan laki-laki yang ia cintai.
MerasakanIbu merasakan rindu kepada nenek di kampung.
MemahamiNatasya sangat memahami materi sejarah yang diajarkan Pak Budi.
MenyukaiBanyak orang menyukai lagu ciptaan Iwan Fals.
MenerimaMaida menerima permintaan maaf dari Nana.

Demikian materi tentang verba material dan verba tingkah laku. Kalian telah mempelajarinya mulai dari pengertian hingga contoh dalam kalimat.

Ketika kalian menemukan verba tersebut dalam berbagai teks bahasa Indonesia sudah tidak bingung lagi.

Verba Transitif dan Intransitif serta Contohnya

Pada kali ini kita akan membahas tentang verba. Verba sama halnya dengan kata kerja.

Verba sendiri memiliki dua jenis yaitu verba transitif dan verba intransitif.

Dari kedua jenis verba tersebut tentu memiliki perbedaan masing-masing.

Pengertian Verba

Verba atau kata kerja adalah kata yang menyatakan makna perbuatan, pekerjaan, tindakan, proses, atau keadaan. Verba biasanya menempati fungsi predikat dalam kalimat.

Bentuk Kata Kerja

Sebelum membahas lebih detail tentang verba transitif dan verba intransitif, simak dulu beberapa bentuk kata kerja.

  • Kata kerja dasar merupakan kata kerja yang berupa kata dasar yang tidak mendapat imbuhan. Contohnya: makan, duduk, tidur, pulang, pergi, dan mandi.
  • Kata kerja berimbuhan merupakan kata kerja yang telah mendapatkan imbuhan. Contohnya: memakan, menduduki, tertidur, memulangkan, bepergian, dan memandikan.
  • Kata kerja aktif merupakan kata kerja yang digunakan untuk menerangkan hal yang dilakukan langsung oleh subjek. Contohnya: menyiram, membuang, dan menyapu.
  • Kata kerja pasif merupakan kata kerja yang digunakan untuk menerangkan hal yang dikenai pada subjek sebagai tujuan dari perbuatan. Contohnya: disiram, dibuang, dan disapu.

Verba Transitif dan Verba Intransitif

Verba dibagi menjadi dua jenis yaitu verba transitif dan verba intransitif.

Keduanya memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Berikut penjelasan lebih jelas dari verba transitif dan verba intransitif.

1. Pengertian Verba Transitif

Verba transitif adalah kata kerja yang memerlukan objek atau pelengkap dalam kalimat.

Kata kerja transitif tidak dapat menjelaskan maksud kalimat jika tidak disertai dengan objek atau pelengkap.

Dengan kata objek atau pelengkap wajib hadir dalam kalimat tersebut.

Contoh Kalimat Verba Transitif

  1. Kucing itu menangkap anak burung merpati.
  2. Ibu mengatakan bahwa kakak akan datang.

Keterangan:

Kalimat 1: kata menangkap merupakan kata kerja transitif karena membutuhkan objek atau pelengkap dalam kalimat.

Dalam kalimat tersebut, anak burung merpati menempati fungsi sebagai objek. Dengan adanya objek membuat kalimat tersebut berterima.

Kalimat 2: kata mengatakan merupakan kata kerja transitif karena membutuhkan pelengkap dalam kalimat.

Dalam kalimat tersebut, bahwa kakak akan datang menempati fungsi sebagai pelengkap. Dengan adanya pelengkap membuat kalimat tersebut berterima.

2. Pengertian Verba Intransitif

Verba Intransitif adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek atau pelengkap dalam kalimat.

Kata kerja intransitif dapat menjelaskan maksud kalimat dengan atau tanpa objek dan pelengkap.

Kalimat dengan kata kerja intransitif terdiri atas subjek dan predikat saja.

Contoh Kalimat Verba Intransitif

  1. Ayah tertidur dengan pulas.
  2. Ibu sedang memasak opor ayam.

Keterangan:

Kalimat 1: kata tertidur merupakan kata kerja intransitif karena tidak membutuhkan objek atau pelengkap dalam kalimat.

Dalam kalimat tersebut, dengan pulas menempati fungsi sebagai pelengkap. Tanpa adanya pelengkap membuat kalimat tersebut masih berterima, yaitu menjadi kalimat “Ayah

Kalimat 2: kata memasak merupakan kata kerja intransitif karena tidak membutuhkan objek dalam kalimat.

Dalam kalimat tersebut, opor ayam menempati fungsi sebagai objek. Tanpa adanya objek membuat kalimat tersebut masih berterima, yaitu menjadi kalimat “Ibu sedang

Perbedaan Verba Transitif dan Intransitif

Agar mudah dalam membedakan verba transitif dan intransitif, perhatikan tabel di bawah ini!

PerbedaanTransitifIntransitif
Objek dan pelengkapMembutuhkan objek atau pelengkapTidak membutuhkan objek atau pelengkap
Bentuk pasifBisa diubah ke dalam bentuk pasifTidak bisa diubah ke dalam bentuk pasif
Imbuhan yang digunakanme-, memper-, memper-kan, me-i. Memper-i, me-kan.Verba dasar, ber-, ber-kan, ter-, ke-an

Demikian penjelasan mengenai pengertian verba transitif dan intransitif beserta perbedaannya. Semoga materi yang kami berikan memudahkan kamu dalam memahami penggunaan kata kerja tersebut. semoga bermanfaat.

PENGERTIAN PUISI: Struktur, Unsur, Ciri, Jenis-Jenis

Puisi adalah ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Seberapa menariknya puisi ditentukan oleh beberapa faktor.

Dan puisi yang baik adalah puisi yang jujur mengungkapkan perasaan isi hatinya.

Untuk lebih jelasnya, masi simak materi tentang puisi di bawah ini!

Pengertian Puisi

Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, diberi irama dengan bunyi yang padu, dan diberi kata-kata kiasan (imajinatif).

Kata-kata dalam puisi betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Jadi walaupun singkat dan padat, kata-katanya tetap kuat.

Salah satu usaha penyair dalam membuat puisi adalah memilih kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi (rima). Kata-katat itu memiliki makna yang lebih luas dan lebih banyak.

Kata yang dipilih berupa konotasi atau makna tambahan dan dibuat sesuai gaya penyair dengan bahasa figuratif.

Ciri-ciri Puisi

Puisi memiliki ciri-ciri tersendiri sehingga membedakan dengan karya sastra yang lainnya. Berikut uraian ciri-ciri puisi.

  • Terdiri atas beberapa baris atau kalimat
  • Memiliki rima atau sajak yang teratur
  • Memiliki makna konotatif atau bukan makna sebenarnya
  • Bahasa yang digunakan lebih padat jika dibandingkan prosa dan drama

Unsur-Unsur Puisi

Di dalam puisi terdapat unsur-unsur yang membangunnya. Unsur puisi tersebut terdiri atas struktur fisik dan struktur batin.

Berikut uraian dari masing-masing unsur.

Struktur Fisik Puisi

Struktur fisik puisi merupakan unsur puisi yang bisa diamati langsung oleh mata. Struktur fisik puisi terdiri atas diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, rima atau ritme, dan tipografi.

Berikut uraiannya masing-masing.

1. Diksi adalah pemilihan kata yang digunakan oleh penyair untuk menimbulkan kesan sesuai dengan apa yang diinginkan.

Pemilihan kata juga harus berkaitan dengan ketepatan dan kejelasan makna. Kata tersebut harus mampu melambangkan atau menggambarkan naksud yang ingin disampaikan penyair.

2. Imaji atau citraan adalah penggunaan kata atau susunan kata yang dapat menimbulkakn imajinasi atau khayalan.

Imaji memberikan gambaran agar pembaca/pendengar seolah-oleh melihat (imajinasi visual), mendengar (imajinasi auditif), dan meraba atau menyentuh benda-benda (imaji taktil) yang terkandung dalam puisi.

Citraan meliputi citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, perabaan dan pergerakan.

3. Kata konkret adalah kata yang digunakan dalma puisi untuk membangkitkan imajinasi pembaca.

Dengan demikian pembaca dapat melihat, mendengar, atau merasakan hal yang dirasakan penyair.

Selain itu pembaca dapat membayangkan secara jelas perisiwa atau keadaan yang dilukiskan penyair

4. Bahasa Figuratif (Majas) adalah pemakaian bahasa dengan cara melukiskan sesuatu dengan konotasi khusus sehingga arti sebuah kata bisa mempunyai banyak makna.

Ada beberapa jenis majas yaitu majas perbandingan, pertentangan, pertautan, dan sindiran.

5. Rima atau ritme adalah persamaan bunyi.

Rima sendiri merupakan pengulangan bunyi, sedangkan ritme merupakan pengulangan kata, frasa, atau kalimat dalam puisi.

Makna yang ditimbulkan adanya rima dan ritme semakin membuat puisi indah dan makna semakin kuat.

6. Tipogrfi atau tata wajah adalah bentuk format suatu puisi berupa pengaturan baris, batas baris kanan kiri atas bawah, jenis huruf yang digunakan.

Tipografi dalam puisi mementingkan gambaran visual dengan menonjolkan bentuk atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar.

Struktur Batin Puisi

Struktur batin puisi merupakan unsur pembangun puisi berupa makna yang tidak terlihat oleh mata.

Struktur batin puisi meliputi tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanat.

Berikut uraiannya.

1. Tema adalah gagasan pokok yang diungkapkan penyair dalam puisinya.

Tema berfungsi sebagai landasan utama penyair dalam puisinya dan menjadi kerangka pengembangan sebuah puisi.

Jika landasan awalnya tentang ketuhanan, keseluruhan struktur puisi itu tidak lepas dari ungkapan-ungkapan ketuhanan.

2. Nada dan suasana adalah satu kesatuan dalam sebuah puisi.

Nada adalah sikap penyair kepada pembaca. Sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca sebuah puisi.

Bisa dikatakan bahwa suasana adalah akibat yang ditimbulkan puisi terhadap jiwa pembaca.

3. Perasaan adalah susuatu hal yang dilatari oleh latar belakang penyair, misalnya agama, pendidikan, kelas sosial, jeis kelamin, pengalaman, dan sebagainya.

Perasaan tersebut bisa berupa kerinduan, kegelisahan, pengagungan kepada Tuhan, pengagungan kepada alam, dan lainnya.

4. Amanat adalah pesan dan tujuan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca melalui puisinya. Pesan puisi umumnya bersifat terseirat.

Namun demikian kita dapat menangkap amanat sebuah puisi dengan cara menelaah setelah memahami tema, nada dan suasana, dan perasaan.

Jenis-jenis Puisi

Pada umumnya, puisi terbagi menjadi tiga jenis yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer.

Berikut penjelasan masing-masing.

1. Puisi lama

Puisi lama merupakan puisi yang dihasilkan sebelum abad ke-20. P

uisi ini memiliki ciri yang khas, yakni tidak dikenal nama pengarangnya (anonim), disampaikan secara lisan atau dari mulut ke mulut, dan terikat oleh aturan (jumlah baris, bait, suku kata, dan rima).

Berikut jenis-jenis puisi lama.

  • Pantun adalah puisi yang terdiri atas empat larik dengan rima akhir ab-ab. Pantun juga memiliki beberapa jenis yaitu pantun jenaka, pantun nasihat, pantun anak, dan sebagainya.
  • Mantra adalah kata-kata yang dianggap memiliki kekuatan Namun kata-kata tersebut hanya bekerja pada orang-orang tertentu. Dengan kata lain tidak sembarang orang bisa mendatangkan kekuatan tersebut. Mantra digunakan untuk acara tertentu, misalnya menolak turunnya hujan.
  • Karmina adalah puisi yang bentuknya lebih pendek dari pantun. Karena pendek sehingga karmina dikatakan sebagai pantun kilat.
  • Seloka adalah pantun berkait yang berasal dari Melayu klasik berisi pepatah.
  • Gurindam adalah puisi lama yang terdiri atas dua bait dan di setiap bait terdiri atas dua baris. Gurindam memiliki rima yang sama yaitu aa dan berisi nasihat dan amanat.
  • Syair adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris dengan bunyi akhiran yang sama yaitu aa-aa. Syair menceritakan tentang kisah yang mengandung amanat yang ingin disampaikan penyairnya.
  • Talibun adalah pantun yang lebih dari empat baris dan memiliki rima abc-abc.

2. Puisi Baru

Puisi baru adalah puisi yang lebih bebas jika dibandingkan dengan puisi lama. Puisi baru sama sekali tidak terikat oleh aturan, baik jumlah baris, bait, suku kata, dan rima.

Puisi baru memiliki beberapa jenis, di antara balada, himne, ode, epigram, romance, elegi, satire, distikon, terzina, kuatren, kuint, sekstet, septima, oktaf/stanza, dan soneta.

Berikut uraiannya masing-masing.

  • Balada adalah puisi yang berisi kisah atau cerita.
  • Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
  • Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
  • Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup.
  • Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
  • Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis atau kesedihan.
  • Satire adalah puisi yang berisi sindiran atau kritik.
  • Distikon adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas dua baris (dua seuntas).
  • Terzina adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas tiga baris (tigaseuntas).
  • Kuatren adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas empat baris (empat seuntas).
  • Kuint adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas lima baris (lima seuntas).
  • Sekstet adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas enam baris (enam seuntas).
  • Septima adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntas).
  • Oktaf/stanza adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas delapan baris (delapan seuntas).
  • Soneta adalah puisi yang terdiri atas 14 baris yang dibagi penjadi dua. Bagian pertama terdiri atas dua bait yang masing-masing bait ada empat baris. Bagian kedua terdapat dua bait yang masing-masing terdiri atas tiga baris. Soneta merupakan puisi yang paling terkenal karena terkesan susah diciptakan.

3. Puisi Kontemporer

Puisi kontemporer adalah puisi yang menyimpang atau melakukan inovasi dari konvensi yang ada.

Puisi kontemporer bisa diamati dari segi tipografi yang sangat berbeda.

Selain itu terdapat kosa kata yang menyimpang tak lazim.

Dalam puisi kontemporer kerap dijumpai kata yang tidak memiliki makna leksikal sehingga sulit dipahami.

Puisi kontemporer dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Puisi mantra yaitu puisi kontemporer yang mengambil sifat-sifat dari mantra.
  2. Puisi mbeling yaitu puisi yang sama sekali tidak mengikuti aturan umum dan ketentuan dalam puisi.
  3. Puisi konkret yaitu puisi yang mengedepankan bentuk fisik (wajah dan bentuk lainnya) dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media.

Cara Membuat Puisi (+Tips)

Dalam menciptakan puisi tentu ada beberapa tahap. Tentu tahap tersebut dirasa bisa membantu dalam menciptakakn sebuah puisi.

Namun setiap orang memiliki proses kreatif tersendiri dalam menciptakan puisi.

Berikut langkah-langkah dalam membuat puisi:

1. Menentukan Tema

Menulis puisi haruslah diawali dengan sebuah tema. Untuk menentukan sebuah tema, kalian dapat mengingat perjalanan hidup atau sesuatu yang tengah dirasakan atau dipikirkan.

Misalnya terkait dengan kehidupan sosial, budaya, masalah-masalah kemanusiaan, atau alam semesta.

2. Menentukan Kata Kunci

Kata kunci merupakan kata-kata yang berkaitan dengan tema. Kembangkan kata kunci menjadi kalimat.

Pilihlah kata yang mampu menimbulkan imaji yang kuat (penglihatan, pendengaran, dan perabaan).

3. Menggunakan Gaya Bahasa

Gaya bahasa akan membuat puisi menjadi indah. selain itu kalian bisa memanfaatkan macam-macam majas agar pembaca tidak bosan membacanya.

4. Mengembangkan Puisi

Mengembangkan kata kunci menjadi kalimat-kalimat yang indah dan mampu mewakili perasaan kalian.

Pilihlah kata yang padat dan mengandung makna di dalamnya.

5. Menentukan Judul

Judul puisi tidak sama dengan tema. Jika tema adalah gagasan pokok, maka judul adalah label yang mewakili isi puisi tersebut.

Buatlah judul puisi yang menarik, yang mampu mewakili isi puisi. Membuat judul puisi tidak harus di awal. Judul puisi bisa dibuat saat puisi sudah selesai dibuat.

Cara Membaca Puisi yang Baik

Dalam membaca puisi tentu tidak sama dengan membaca cerpen, novel, atau berita, dibutuhkan teknik dalam membaca puisi agar kita bisa merasakan pesan yang akan disampaikan penyair dalam puisi tersebut.

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikakn dalam membaca puisi.

  1. Ekspresi, berupa mimik wajah yang sesuai dengan isi puisi.
  2. Gesture, yaitu bahasa tubuh saat pembacaan puisi.
  3. Artikulasi, yaitu kejelasan dan ketepatan dalam pelafalan.
  4. Irama, yaitu panjang pendek dan tinggi rendahnya suara.
  5. Intonasi, yaitu penekanan pada kata-kata tertentu.
  6. Volume, berupa keras rendahnya suara.

Demikianlah penjelasan tentang puisi. Semoga materi ini bisa bermanfaat dan membantu kalian dalam belajar. Terima kasih.

CERPEN: Pengertian, Ciri, Unsur, Struktur Fungsi

Salah satu genre (bagian) yang terdapat dalam prosa adalah cerpen. Sebagai bentuk karya sastra, cerpen memiliki ciri khas tersendiri. Kelebihan dalam sebuah cerpen terletak dalam hal penyampaian bentuk permasalahan cerita yang serba ringkas.

Pengertian Cerpen

Cerita pendek (cerpen) adalah salah satu jenis karya sastra yang berwujud prosa dan bersifat fiktif yang mengisahkan problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang secara ringkas.

Cerpen memiliki wujud atau struktur fisik yang pendek. Ukuran panjang pendeknya suatu cerita memang relatif.

Pada umumnya cerita pendek merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau setengah jam sehingga cerpen juga disebut sebagai cerita yang habis dibaca sekali duduk.

Jumlah kata yang terdapat dalam cerpen tidak lebih dari 10.000 kata.

Ciri-Ciri Cerpen

Tentu cerpen memiliki ciri yang khas, namun tidak jauh berbeda dengan novel maupun novelet. Berikut ciri-ciri dari cerpen.

  • Jumlah kata tidak lebih dari 10.000 kata.
  • Habis dibaca dalam sekali duduk.
  • Bersifat fiktif atau rekaan.
  • Hanya memiliki satu alur atau disebut juga alur tunggal.
  • Isi cerita berasal dari kehidupan sehari-hari.
  • Diksi atau pilihan kata bersifat sederhana dan mudah dipahami.
  • Penggambaran tokoh dalam cerpen sangat sederhana.
  • Hanya beberapa peristiwa dalam hidup yang diangkat.
  • Amanat yang disampaikan sangat mendalam sehingga pembaca merasakan isi dari cerpen tersebut.

Struktur Cerpen

Berikut struktur yang terdapat dalam cerpen:

  1. Abstrak merupakan gambaran bagian awal cerita yang akan diceritakan. Bagian ini bersifat opsional atau pilihan, sehingga boleh ada atau tidak ada.
  2. Orientasi merupakan bagian yang menggambarkan waktu, tempat, dan suasana dalam dalam cerpen tersebut.
  3. Komplikasi merupakan urutan kejadian atau peristiwa yang dihubungkan secara sebab akibat. Karakter tokoh bisa terlihat dalam bagian ini.
  4. Evaluasi merupakan bagian konflik yang sedang terjadi dan menuju pada klimaks serta mulai mendapatkan penyelesaian dari konflik tersebut.
  5. Resolusi merupakan bagian yang mengungkapkan solusi dari masalah yang sedang dialami oleh tokoh dalam cerpen.
  6. Koda merupakan nilai atau pelajaran yang bisa diambil dari teks cerita pendek oleh pembaca.

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen

Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun cerpen dari dalam. Unsur intrinsik terdiri atas tema, penokohan, latar, alur, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa. Berikut uraian dari masing-masing unsur tersebut:

1. Tema

Tema adalah inti atau gagasan utama yang menjadi dasar cerita sebuah cerpen.

Tema cerpen beragam, namun biasanya bersifat sederhana. Tema umumnya diungkapkan tersirat dan dapat diketahui setelah membaca cerpen secara keseluruhan.

2. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa atau urutan cerita dalam cerpen.

Alur memiliki pola pengembangan yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat.

Alur cerpen memiliki jalan yang singkat karena tema cerita yang dikisahkan lebih sederhana.

3. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang terdapat dalam cerita pendek.

Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh dalam karya sastra.

Sifat tokoh bisa tercermin dari sikap, perilaku, ucapan, pikiran, dan pandangannya terhadap suatu hal dalam cerita.

Dalam penggambaran karakter tokoh ada dua teknik:

1. Teknik analitis, karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang.

Contoh: pandai, baik, pembohong, penakut, dan lain sebagainya.

2. Teknik dramatis, karater tokoh diceritakan secara tidak langsung.

Teknik dramatis bisa dilakukan dengan:

  • Penggambaran fisik dan perilaku tokoh
  • Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh
  • Penggambaran bahasa yang digunakan tokoh
  • Pengungkapan jalan pikiran tokoh
  • Penggambaran oleh tokoh lain

Sementara itu, aspek yang digambarkan berupa fisik, sosial, psikologi, dan nilai moral.

4. Amanat

Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang terhadap pembaca.

Amanat disampaikan secara tersirat oleh pengarang dalam isi cerita.

5. Latar

Latar atau setting merupakan gambaran tempat, waktu, dan suasana yang terdapat dalam cerpen.

Latar bisa bersifat faktual atau imajinasi pengarang.

6. Gaya bahasa

Penggunaan gaya bahasa dalam sebuah cerita dapat berfungsi untuk menciptakan nada atau suasana persuasif.

Gaya bahasa juga dapat merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi antartokoh.

7. Sudut pandang

Sudut pandang (point of view) adalah posisi pengarang dalam cerita.

Posisi pengarang dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Sudut pandang orang pertama, penulis berperan langsung sebagai orang pertama sebagai tokoh yang terlibat dalam cerita. Dalam sudut pandang ini pengarang menggunakan sebutan “aku” dan “saya” sebagai tokoh utama.
  2. Sudut pandang orang kedua, penulis menggunakan kata ganti orang kedua misalnya “kamu” untuk tokoh utama ceritanya. Posisi pengarang dalam hal ini berperan sebagai pencerita atau rekan tokoh kamu itu.
  3. Sudut pandang orang ketiga, penulis berperan sebagai pengamat. Dalam hal ini pengarang menggunakan kata “ia”, “dia” atau menggunakan “nama orang”. Pengarang ada di luar seolah menceritakan apa yang terjadi.

Unsur Ekstrinsik Cerpen

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk cerpen dari luar.

Terdapat tiga hal utama dalam unsur ekstrinsik cerpen, yaitu latar belakang masyarakat, latar belakang pengarang, dan nilai-nilai yang terkandung, yaitu:

  1. Latar belakang masyarakat, meliputi kondisi politik, ideologi, sosial, budaya, dan ekonomi.
  2. Latar belakang pengarang, merupakan faktor-faktor yang memengaruhi pengarang untuk membuat cerita pendek. Faktor tersebut berupa riwayat hidup pengarang, psikologi pengarang, dan aliran sastra.
  3. Nilai-nilai yang terkandung, yaitu berupa nilai moral, sosial, pendidikan, religi, etika, ekonomi, dan lain sebagainya.

Fungsi Sastra dalam Cerpen

Terdapat lima fungsi sastra dalam cerpen, berikut penjelasannya:

  1. Fungsi rekreatif, yaitu fungsi yang memberikan hiburan, rasa senang, dan gembira pada pembaca.
  2. Fungsi didaktif, yaitu fungsi yang memberikan pengarahan dan pendidikan kepada pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada di dalamnya.
  3. Fungsi estetis, yaitu fungsi yang memberikan keindahan bagi pembacanya.
  4. Fungsi moralitas, yaitu fungsi yang mengandung nilai moral sehingga pembaca dapat mengetahui moral yang baik dan benar.
  5. Fungsi relegiusitas, yaitu fungsi yang mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi pembacanya.

Itu tadi materi terkait cerpen, mulai dari pengertian, ciri, unsur, struktur, dan fungsi. Semoga materi tersebut memudahkan kalian dalam belajar. Semoga bisa memberikan manfaat. Terima kasih.

NOVEL: Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik (Singkat)

Novel merupakan salah satu jenis karya sastra. Banyak hal menarik yang dapat diperoleh dengan membaca sebuah novel.

Hal-hal menarik tersebut secara tidak langsung juga dapat memengaruhi kehidupan pembaca.

Pengertian Novel

Novel adalah salah satu jenis karya sastra berbentuk prosa yang mengisahkan problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang.

Novel itu sendiri berasal dari bahasa Italia, yaitu novella yang berarti sebuah barang baru yang kecil.

Novel menceritakan kehidupan para tokoh hingga terjadinya konflik yang dapat menyebabkan perubahan kehidupan para tokoh tersebut.

Ciri-ciri Novel

Novel lebih panjang daripada cerpen. Novel memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan karya sastra lainnya.

Di bawah ini uraian dari ciri-ciri novel.

  • Tema novel bersifat kompleks, yang ditandai dengan adanya tema-tema bawahan.
  • Memiliki tokoh yang banyak dengan karakter yang beragam.
  • Perwatakan atau penokohan disampaikan lebih mendalam atau detail.
  • Memiliki alur yang rumit dan panjang yang ditandai dengan perubahan nasib pada diri tokoh.
  • Beberapa peristiwa yang terjadi memengaruhi jalan cerita.
  • Latar yang meliputi wilayah geografi yang luas dan dalam waktu yang lebih lama.

Unsur Intrinsik Novel

Unsur intrinsik merupakan unsur-unsur yang menyusun/membentuk dari dalam sebuah cerita.

Unsur intrinsik meliputi:

  • Tema
  • Alur
  • penokohan
  • Amanat
  • Latar
  • Gaya bahasa
  • dan sudut pandang.

Untuk lebih jelasnya perhatikan urian dari unsur intrinsik berikut.

1. Tema

Tema adalah inti atau pokok yang menjadi dasar pembangunan sebuah novel.

Tema novel dapat berupa persoalan kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan, persahabatan, petualangan, dan sebagainya.

Tema umumnya diungkapkan tersirat dan dapat diketahui setelah membaca novel tersebut secara keseluruhan.

2. Alur

Alur merupakan rangkaian peristiwa dalam novel.

Alur memiliki pola pengembangan yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat.

Alur novel memiliki jalan yang panjang karena tema cerita yang dikisahkan lebih kompleks.

3. Penokohan

Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh dalam karya sastra.

Cara penggambaran watak tokoh ada dua macam.

Penggambaran secara langsung (analitik) yaitu penulis menyebutkan langsung karakter tokoh dan penggambaran secara tidak langsung (dramatik) yaitu melalui gambaran fisik , dialog, lingkungan, dan lain sebagainya.

4. Amanat

Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang terhadap pembaca melalui karyanya.

Amanat disampaikan secara tersirat oleh pengarang dalam isi cerita.

Oleh karena itu, untuk menemukan amanat harus membaca keseluruhannya.

5. Latar

Latar atau setting adalah unsur dalam suatu cerita yang menunjukkan kapan, di mana, dan bagaimana peristiwa-peristiwa dalam cerita berlangsung.

Latar meliputi tempat, waktu, dan suasana. Latar bisa bersifat faktual atau imajinasi pengarang.

Gaya bahasa

Penggunaan gaya bahasa dalam sebuah cerita dapat berfungsi untuk menciptakan nada atau suasana persuasif.

Gaya bahasa juga dapat merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi antartokoh.

Sudut pandang

Sudut pandang (point of view) merupakan posisi pengarang dalam cerita. Posisi pengarang ini terdiri atas dua macam.

Pertama, berperan langsung sebagai orang pertama sebagai tokoh yang terlibat dalam cerita. Kedua, orang ketiga yang berperan sebagai pengamat.

Unsur Ekstrinsik Novel

Terciptanya novel sering kali dipengaruhi oleh peristiwa tertentu atau kondisi sosial budaya ketika novel itu dibuat. Jika diperhatikan, tidak sedikit novel yang dipengaruhi peristiwa-peristiwa tertentu.

Atau kondisi politik, suasana alam sekitar, atau sosok tertentu yang memiliki pengaruh.

Unsur ekstrinsik dalam novel dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Latar belakang penulis
  2. Pendidikan penulis
  3. Pengalaman penulis

Pengaruh tersebut mungkin muncul pada tema, konflik, karakter tokoh, ataupun unsur-unsur lainnya. Hal tersebut dikatakan sebagai unsur ekstrinsik. Sebuah unsur yang membentuk novel dari luar novel itu sendiri.

Perbedaan Spermatogenesis dan Oogenesis

Perkembangan teknologi pada abad 21 ini sudah semakin terbarukan tiap waktunya. Tak terkecuali teknologi dibidang biologi.

Salah satunya yaitu bayi tabung.

Kalian sudah pernah dengarkan istilah bayi tabung?

Mungkin yang ada di benak kalian, bayi yang dihasilkan di dalam tabung bukan di dalam rahim ibu. Hehe.

Pembahasan kali ini bukan terkait penjelasan tentang proses bayi tabung.

Melainkan apa saja komponen utama pembentukan manusia.

Sebelum manusia terlahir utuh dalam bentuk bayi, awalnya dari mana ya asalnya?

Nah berikut ini akan dijelaskan terkait spermatogenesis dan oogenesis agar kalian lebih paham dari mana awalnya kita berasal.

Selamat belajar..

Pengertian Spermatogenesis dan Oogenesis

1. Spermatogeneisis

Proses Spermatogenesis

Gametogenesis adalah proses pembuatan gamet, pada jantan disebut dengan spermatogenesis dan pada betina disebut oogenesis.

Sel gamet terdiri dari gamet jantan (spermatozoa) yang dihasilkan di testis dan gamet betina (ovum) yang dihasilkan di ovarium.

Spermatogenesis merupakan proses pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa).  Sperma dibentuk di dalam testis, kemudian keluar menuju epididimis untuk mengalami pematangan. Kemudian bergerak menuju vas deferens dan tersimpan selama beberapa waktu.

Sebelum sperma ke luar tubuh melalui uretra, sperma mendapat cairan semen dari vesika seminalis, kelenjar prostate dan kelenjar cowper.

Sel spermatozoa, disingkat sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis melewati sebuah proses kompleks.

Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan dalam epididimis.

Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel germinal yang disebut spermatogonia (jamak).

Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapis luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.

Tahapan proses spermatogenesis dijelaskan sebagai berikut.

  1. Spermatositogenesis (spermatocytogenesis) adalah tahap awal dari spermatogenesis yaitu peristiwa pembelahan spermatogonium menjadi spermatosit primer (mitosis). Spermatosit melanjutkan pembelahan secara meiosis menjadi spermatosit sekunder dan spermatid.
  2. Spermiogenesis (spermiogenesis) adalah peristiwa perubahan spermatid menjadi sperma yang dewasa. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama dua hari.
  3. Spermiasi (Spermiation) adalah peristiwa pelepasan sperma matur dari sel sertoli ke lumen tubulus seminiferus selanjutnya ke epididimidis. Sperma belum memiliki kemampuan bergerak sendiri (non-motil).

Sperma non motil ini ditranspor dalam cairan testicular hasil sekresi sel Sertoli dan bergerak menuju epididimis karena kontraksi otot peritubuler.

Sperma baru mampu bergerak dalam saluran epidimis namun pergerakan sperma dalam saluran reproduksi pria bukan karena motilitas sperma sendiri melainkan karena kontraksi peristaltik otot saluran.

2. Oogenesis

Proses Oogenesis

Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) di dalam ovarium. Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel-sel telur yang disebut oogonia (tunggal: oogonium).

Pembentukan sel telur pada manusia dimulai sejak di dalam kandungan, yaitu di dalam ovari fetus perempuan.

Pada akhir bulan ketiga usia fetus, semua oogonia yang bersifat diploid telah selesai dibentuk dan siap memasuki tahap pembelahan.

Semula oogonia membelah secara mitosis menghasilkan oosit primer.

Pada perkembangan fetus selanjutnya, semua oosit primer membelah secara miosis, tetapi hanya sampai fase profase.

Pembelahan miosis tersebut berhenti hingga bayi perempuan dilahirkan, ovariumnya mampu menghasilkan sekitar dua juta oosit primer mengalami kematian setiap hari sampai masa pubertas.

Memasuki masa pubertas, oosit melanjutkan pembelahan miosis I.

Hasil pembelahan tersebut berupa dua sel haploid, satu sel yang besar disebut oosit sekunder dan satu sel berukuran lebih kecil disebut badan kutub primer.

Pada tahap selanjutnya, oosit sekunder dan badan kutub primer akan mengalami pembelahan miosis II.

Pada saat itu, oosit sekunder akan membelah menjadi dua sel, yaitu satu sel berukuran normal disebut ootid dan satu lagi berukuran lebih kecil disebut badan polar sekunder.

Badan kutub tersebut bergabung dengan dua badan kutub sekunder lainnya yang berasal dari pembelahan badan kutub primer sehingga diperoleh tiga badan kutub sekunder.

Ootid mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi ovum matang, sedangkan ketiga badan kutub mengalami degenerasi (hancur).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada oogenesis hanya menghasilkan satu ovum.

Perbedaan Pertumbuhan Primer dan Sekunder

Yuk kita simak penjabaran perbedaan antara spermatogenesis dan oogenesis yang disajikan dalam bentuk tabel berikut ini.

SpermatogenesisOogenesis
Pembelahan meiosisnya terjadi secara secara simetrisPembelahan meiosisnya terjadi secara secara asimetris
Spermatogenesis terjadi tanpa henti dan terjadi pada tubulus seminiferus yang berada di dalam testisOogenesisnya mempunyai periode istirahat yang panjang, oogenesis terjadi di folikel ovarium
Menghasilkan 4 sel sperma fungsionalMenghasilkan satu sel telur fungsional dan 2 sel polosit
Sel-sel sperma terus berkembang dan membelah sepanjang hidup laki-laki, sehingga jumlahnya akan selalu bertambahOvariumnya mengandung semua sel yang akan berkembang menjadi sel telur, sehingga jumlahnya akan selalu berkurang

Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci terkait penjabaran keterangan masing-masing tabel.

1. Keterangan Tabel nomor 1

  • Simetris artinya ukuran oosit yang dihasilkan sama
  • Asimetris artinya ukuran oosit yang dihasilkan berbeda, ada yang berukuran besar dan ada yang berukuran kecil

2. Keterangan tabel nomor 2

Saat perempuan masih berada di dalam kandungan, tepatnya pada bulan kelima, sel germinativum di ovarium bayi akan membelah secara mitosis menjadi sel-sel oogonium.

Pada masa janin tersebut terdapat sekitar satu juta oogonium di dua ovariumnya.

Dan saat bayi perempuan tersebut lahir, oogonium menjadi empat ratus ribu dan akan berkurang lagi saat dia mengalami menstruasi pertamanya (menjadi empat ratus).

Salah satu dari empat ratus ribu oogonium di dalam janin akan mengalami masa tumbuh dan berkembang menjadi oosit primer.

Oosit primer ini kemudian mengalami dorman (fase istirahat) beberapa tahun hingga anak perempuan tersebut mengalami pubertas.

Seperti halnya pada wanita, sejak bayi laki-laki masih berada dalam kandungan ibunya, tepatnya pada usia kelima bulan, janin telah memiliki sejumlah bakal sel kelamin (primordial germ cell).

Hanya saja pada lelaki bakal sel kelamin tersebut tidak mengalami degenerasi sehingga jumlahnya pun tetap saat dilahirkan.

Ketika terjadi pembelahan meiosis 1 pada spermatogenesis, dihasilkan dua spermatosit sekunder.

Spermatosit sekunder yang satu akan berperan dalam spermatogenesis, sedangkan spermatosit sekunder yang satunya lagi akan bertindak sebagai induk sperma yang nantinya akan mnghasilkan bakal sel kelamin lagi.

Hal ini menyebabkan spermatogensis terjadi terus menerus tanpa fase istirahat.

3. Keterangan tabel nomor 3

Pembelahan pada meosis I pada oogenesis, terjadi secara asimetris (menghasilkan oosit berukuran besar dan kecil), hal ini yang menyebabkan terjadinya polosit.

Pada oosit yang berukuran kecil, volume sitoplasmanya lebih kecil dari volume intinya sehingga oosit tersebut tidak lagi dapat melakukan pembelahan dan terjadi degenerasi yang akhirnya disebutlah polosit.

Pada meiosis 1 hanya terbentuk satu polosit, sedangkan pada meiosis 2 terbentuk dua polosit sehingga hasil akhirnya terbentuklah satu sel telur dan dua polosit.

Hasil pembelahan pada meiosis 1 pada spermatogenesis, berupa spermatosis sekunder dengan ukuran yang sama besar.

Rasio ukuran hasil dari pembelahan ini yang menyebabkan sperma tersebut dapat membelah lagi dan pada akhirnya menghasilkan empat sperma yang fungsional.

4. Keterangan tabel nomor 4

Tabel nomor 4 akan dijelaskan lebih detail pada tabel berikut terkait perbedaan jumlah sel kelamin yang dihasilkan pada laki-laki dan wanita.

Laki-lakiWanita
Janin mempunyai 1 juta spermatogoniaJanin mempunyai 1 juta gonium
·Saat lahir, spermatogonianya tetap (satu juta)Saat lahir, goniumnya menjadi

400.000

Jika setiap satu spermatogonianya mengalami spermatogenesis, maka dia akan mempunyai empat juta spermaSaat menstruasi pertama,

goniumnya berkurang, menjadi 400

·

Spermatogenesis terjadi sepanjang hayat sehingga jumlahnya menjadi tak terhingga400/ 12 bulan = 35 tahun

Artinya 400 gonium ini bertahan untuk 35 tahun,

 

jika awal haidnya saat berumur 12 tahun maka : (35 +12) tahun = 47 tahun,

maka wanita tersebut  akan

monopouse pada umur 47 tahun.

Walaupun setiap satu kali ejakulasi mengeluarkan 2-5 mililiter sperma (1mm= 50-130 sperma), suku cadang sperma bisa bertahan sampai umur 50an tahun.

Berdasarkan uraian artikel di atas, kalian sudah paham kan terkait apa saja komponen pembentukan manusia (reproduksi manusia).

Awal pembentukan manusia dimulai dari peleburan sel sperma dan sel telur di dalam oviduk.

Sel sperma dihasilkan dari proses spermatogenesis dan sel telur dari proses oogenesis.

KONJUNGSI TEMPORAL: Pengertian, Macam, dan Contoh Konjungsi

Tentu kalian sudah mengetahui apa itu konjungsi. Ya, konjungsi sama halnya dengan kata penghubung.

Konjungsi merupakan kata yang menghubungkan antar kata, frasa, klausa, kalimat, dan sebagainya.

Contoh konjungsi di antaranya adalah kata dan, atau, jika, walau, tetapi, meskipun, dan masih banyak lagi.

Sedangkan temporal itu sendiri berhubungan atau waktu. Jika dalam kalimat temporal berarti berkaitan dengan keterangan waktu.

Jadi..

Pengertian Konjungsi Temporal

Konjungsi temporal adalah kata hubung yang menyatakan adanya hubungan waktu antara satu kalimat dengan kalimat selanjutnya.

Konjungsi temporal berfungsi untuk menguraikan secara kronologis dari suatu keadaan, kejadian, atau peristiwa.

Maka dari itu konjungsi temporal tidak sama dengan konjungsi pada umumnya. Tidak semua konjungsi termasuk dalam konjungsi temporal.

Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan materi tentang konjungsi temporal berikut ini.

Macam-macam Konjungsi Temporal

Konjungsi temporal dibagi menjadi dua jenis yaitu sederajat dan tidak sederajat. Berikut ciri-ciri dari masing-masing konjungsi.

Konjungsi Temporal Sederajat

Konjungsi temporal sederajat merupakan konjungsi yang memiliki sifat sama atau sederajat. Konjungsi ini digunakan dalam kalimat majemuk setara. Penempatan konjungsi temporal berada di tengah-tengah kalimat.

Contoh: kemudian, lalu, selanjutnya, sebelumnya, sesudahnya, selanjutnya, dan setelahnya.

Contoh Konjungsi Temporal Sederajat

Lalu

  • Ibu berbelanja sayur dan lauk di pasar lalu memasaknya untuk makan malam.
  • Hari ini Rinta pergi ke bimbingan belajar lalu menjemput adiknya di rumah paman.
  • Raisa menyanyikan lagu kesukaannya lalu mengajak Isyana bernyanyi bersama. 

Kemudian

  • Paman memanen buah mangga kemudian menjualnya ke pasar.
  • Ani bergegas mengerjakan tugas kemudian mengumpulkannya di ruang guru.
  • Juna membuat adonan roti kemudian memanggangnya di oven. 

Sebelumnya

  • Nonik duduk di ujung kursi restoran sebelumnya ia memesan makanan terlebih dahulu.
  • Dedik memenangkan lomba pidato bahasa Inggris sebelumnya ia berlatih dengan sungguh-sungguh.
  • Ardito sampai di sekolah tepat waktu sebelumnya ia berangkat menggunakan sepeda anginnya. 

Selanjutnya

  • Ayunda telah lulus kuliah selanjutnya ia harus mencari pekerjaan.
  • Ayah memperbaiki genting yang bocor selanjutnya menambal saluran air yang tersumbat.
  • Pelajaran Fisika telah selesai selanjutnya pelajaran bahasa Jepang. 

Sesudahnya

  • Arini menulis naskah drama sesudahnya ia menulis cerpen.
  • Kakak membersihkan jendela sesudahnya ia menyapu lantai.
  • Seluruh siswa mengikuti ujian praktik sesudahnya mengikuti ujian tulis.

Konjungsi Temporal Tidak Sederajat

Konjungsi temporal tidak sederajat merupakan konjungsi yang menghubungkan kalimat bertingkat atau tidak sederajat. Pada umumnya konjungsi ini digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat. Untuk penempatannya, konjungsi ini berada di awal, tengah, dan akhir kalimat.

Contoh: semenjak, sebelum, ketika, tatkala, demi, sementara, sambil, sejak, bila, apabila waktu

Contoh Konjungsi Temporal Tidak Sederajat

Sejak

  • Sejak ayahnya meninggal, ia selalu tampak murung.
  • Sejak ia pindah rumah, aku tidak pernah melihatnya lagi.
  • Malika selalu menjemput Maya pulang sekolah sejak sepeda Maya rusak.

Ketika      

  • Ayah baru sampai ketika ibu membukakan pintu.
  • Listrik di rumah mengalami pemadaman ketika hujan turun dengan deras
  • Ketika Farah belajar, hikmah membantunya.

Sebelum

  • Saya selalu mencuci tangan sebelum
  • Sebelum Dikta pergi, ada sesuatu yang ingin disampaikan Rania.
  • Sebelum membuang sampah, Rosi memeriksanya kembali.

Apabila

  • Apabila hujan sudah reda, Tania akan pergi menjemput adiknya di tempat bimbingan belajar.
  • Apabila bel berbunyi, siswa harus masuk ke kelas.
  • Pendaki dilarang ke puncak apabila cuaca mulai memburuk.

Demi

  • Demi sesuap nasi, ia rela membanting tulang.
  • Nadia belajar dengan sungguh-sungguh demi tercapai cita-citanya.
  • Demi masuk ke perguruan tinggi, Sofi belajar dengan giat.

Hingga

  • Hingga malam hari ayah belum juga pulang.
  • Hingga saat ini ia tidak berani mengungkapkan perasaannya.
  • Dia akan menyayanginya hingga tua nanti.

Sambil

  • Doni kuliah sambil bekerja.
  • Dia berlari sambil menangis.
  • Ibu memasak sambil menggendong adik.

Sementara

  • Riri membantu ibunya sementara Rara bermain dengan teman-temannya.
  • Dia pergi dengannya sementara aku di sini menunggunya.
  • Dia sudah bekerja sementara aku masih sibuk mencari pekerjaan.

Waktu

  • Waktu hujan reda, terlihat pelangi di langit utara.
  • Kami pulang sekolah waktu bel berbunyi.
  • Aku merasa begitu sedih waktu dia pergi.

Bila

  • Bila dia menyayangimu, maka dia tidak akan meninggalkanmu.
  • Kami selalu pergi ke rumah nenek bila libur telah tiba.
  • Bila hujan turun, jalanan menjadi licin.

Nah, itulah materi yang berkaitan dengan  konjungsi temporal serta jenis dan berbagai contohnya dalam bentuk kalimat. Semoga kamu bisa memahami materi tersebut dengan mudah. Terima kasih.

Perbedaan Pertumbuhan Primer dan Sekunder (+Tabel)

Pernahkah kalian merasakan nikmatnya menyantap sayur bayam di siang hari? Sayur bayam yang kalian makan tentunya tidak hanya daunnya kan, sekaligus batang bayamnya juga bisa dikonsumsi.

Setelah kalian merasakan nikmatnya sayur bayam, selanjutnya kita memanen buah mangga. Coba sejenak kalian bayangkan antara batang bayam dan batang mangga.

Adakah perbedaan keduanya?

Lalu, perhatikan juga tinggi kedua tanaman tersebut jika sudah berumur sekitar satu tahun.

Nah pada pembahasan kali ini, kita akan mempelajari lebih detail terkait pertumbuhan pada tanaman.

Pengertian Pertumbuhan Primer dan Sekunder

Pertumbuhan pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder.

Secara ringkas pertumbuhan primer adalah penambahan panjang atau tinggi tanaman sedangkan pertumbuhan sekunder adalah penambahan diameter atau ketebalan dari tanaman.

1) Pertumbuhan Primer pada Tumbuhan

Pertumbuhan primer adalah proses ujung batang dan ujung akar yang tumbuh memanjang karena adanya aktivitas sel-sel meristematik primer.

Adanya jaringan meristem primer pada ujung akar dan ujung batang ini memungkinkan tumbuhan tumbuh lebih tinggi atau lebih panjang.

Sel-sel meristem dapat juga berdiferensiasi menjadi sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi yang khusus.

Daerah pertumbuhan pada ujung batang dan ujung akar dapat dibedakan menjadi 3 daerah, yaitu sebagai berikut.

  1. Daerah pembelahan terdapat pada ujung akar. Sel-sel meristem di daerah ini akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan struktur akar pertama.
  2. Daerah pemanjangan terletak setelah daerah pembelahan. Pada daerah ini, sel-sel mengalami pembesaran dan pemanjangan.
  3. Daerah diferensiasi merupakan daerah yang sel-selnya berdiferensiasi menjadi sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi khusus.

2) Pertumbuhan Sekuder pada Tumbuhan

Pada tumbuhan dikotil, selain terdapat jaringan meristem primer di ujung akar dan ujung batang, juga terdapat jaringan meristem sekunder. Jaringan meristem sekunder tersebut berupa kambium dan kambium gabus.

Pertumbuhan sekunder adalah bertambahnya besarnya batang dan akar tanaman sehingga tumbuhan menjadi lebih besar.

Adapun proses pertumbuhan sekunder adalah sebagai berikut.

  1. Kambium vaskuler membelah ke arah dalam membentuk xilem dan kearah luar membentuk floem
  2. Parenkim batang atau akar di antara vasis berubah menjadi cambium intervaskuler
  3. Felogen membelah ke arah luar membentuk feloderm.

Pertumbuhan sekunder pada pohon dikotil tidak tetap sepanjang tahun. Pada saat musim hujan dan cukup hara, pertumbuhan sangat cepat sedangkan pada saat musim kemarau, pertumbuhan sekunder akan lambat atau terhenti.

Aktivitas kambium membentuk xilem dan floem yang lebih cepat dari pada pembentukan kulit mengakibatkan kulit pohon (korteks dan epidermis) pecah.

Untuk mengatasinya felogen membentuk feloderm kearah dalam dan felem ke arah luar. Feloderm merupakan sel hidup, sedangkan sel felem merupakan sel mati.

Pertumbuhan sekunder disebabkan oleh aktivitas jaringan meristem sekunder seperti pada jaringan kambium pada batang tumbuhan dikotil dan Gymnospermae.

Semakin tua umur tumbuhan, batang tumbuhan dikotil akan semakin besar. Hal ini disebabkan adanya proses pertumbuhan sekunder.

Pertumbuhan sekunder ini tidak terjadi pada tumbuhan monokotil. Bagian yang paling berperan dalam pertumbuhan sekunder ini adalah kambium. Sel-sel jaringan kambium senantiasa membelah.

Kambium membelah ke arah dalam membentuk xylem atau kayu sedangkan pembelahan ke luar membentuk floem atau kulit kayu yang menyebabkan diameter batang dan akar bertambah besar.

Kambium pada posisi seperti ini dinamakan kambium intravaskuler. Sel-sel parenkim yang terdapat di antara pembuluh, lama kelamaan berubah menjadi kambium. Kambiun ini dinamakan cambium intervaskuler

Pertumbuhan sekunder terjadi sebagai hasil aktivitas jaringan meristem sekunder yang terdapat pada tumbuhan dikotil berupa kambium dan kambium gabus.

Adanya pertumbuhan sekunder ini memungkinkan bertambah besarnya organ-organ tumbuhan.

Perbedaan Pertumbuhan Primer dan Sekunder

Berikut ini akan dijelaskan dalam bentuk tabel terkait perbedaan pertumbuhan primer dan sekunder agar kalian bisa lebih mudah memahami.

Pertumbuhan PrimerPertumbuhan Sekunder
Pertumbuhan primer disebabkan aktivitas meristem apikalPertumbuhan sekunder disebabkan oleh adanya aktivitas meristem sekunder
Pertumbuhan primer terjadi di setiap bagian pada tanamanPertumbuhan sekunder terjadi pada tanaman gymnospermae dan angiospermae, kecuali monokotil
Pertumbuhan primer menghasilkan tumbuhan dalam sumbu longitudinal  (menambah tinggi atau panjang tanaman)Menghasilkan pertumbuhan radial (menambah diameter atau keliling batang tanaman)
Jangka waktu pertumbuhan primer ini ketika setelah diferensiasi jaringan pada tumbuhanJangka waktu pertumbuhan sekunder adalah ketika adanya bagian yang memang akan dikembangkan melalui proses kematangan
Pengembangan pada pertumbuhan primer terdiri dari korteks, epidermis, dan jaringan vaskular pada saat pertumbuhan primer berlangsungPengembangan pertumbuhan sekunder terdiri dari floem sekunder, xylem sekunder, lentisel, periderm, dan kulit kayu.

Berdasarkan uraian di atas, pastinya kalian sudah paham kan perbedaan antara pertumbuhan batang pada tanaman bayam dan mangga.

Pada tanaman mangga memiliki diameter batang yang bisa membesar dan berkayu, memiliki tinggi hingga puluhan meter, dan bisa bertahan hidup sampai puluhan tahun.

Batang pada tanaman mangga termasuk tanaman dikotil yang memiliki kemampuan membelah diri dikarenakan aktivitas jaringan meristem sekunder. Jaringan meristem tersebut berupa kambium dan kambium gabus.

Aktivitas kambium dan kambium gabus mengakibatkan pertumbuhan sekunder yaitu bertambah besamya batang dan akar tanaman.

Contoh Pertumbuhan Pada Akar dan Batang

Pertumbuhan pada organ tumbuhan yang akan dibahas adalah pertumbuhan akar dan pertumbuhan batang.

1. Pertumbuhan Akar

Bagian-bagian akar tumbuhan memiliki kecepatan pertumbuhan yang tidak merata. Bagian akar yang pertumbuhan paling cepat adalah bagian belakang ujung akar.

Pada akar tedapat tiga daerah pertumbuhan berdasarkan kecepatan pertumbuhannya, yaitu daerah pembelahan sel, daerah pemanjangan sel, dan daerah diferensiasi sel.

Pada ujung akar dan batang tumbuhan berbiji yang sedang aktif tumbuh, terdapat tiga daerah pertumbuhan dan perkembangan.

Daerah tersebut adalah daerah pembelahan, daerah pemanjangan, dan daerah diferensiasi.

a) Daerah Pembelahan Sel

Daerah Pembelahan, merupakan daerah yang paling cepat tumbuh. Daerah ini terletak bagian belakang ujung akar, meliputi tudung akar dan daerah meristem.

Tudung akar merupakan daerah akar yang terdapat di bagian akar paling ujung.

Tudung akar mempunyai beberapa fungsi, yaitu untuk mensekresikan cairan polisakarida dan melindungi daerah meristem akar.

Cairan polisakarida berguna untuk melumasi tanah di sekitar titik pertumbuhan akar sehingga menyebabkan tanah menjadi lunak dan mudah ditembus oleh akar.

b) Daerah Pemanjangan Sel

Sel-sel di daerah pemanjangan pembelahan lebih lambat dari pada sel meristem , akan tetapi memiliki kemampuan untuk memanjang lebih dari 9 kali panjang sel mula-mula.

Pemanjangan sel ini–sel ini berfungsi penting untuk menekan ujung akar supaya akar memanjang.

Sel – sel yang terdapat di daerah pemanjangan berfungsi untuk menyimpan makanan.

Ciri- ciri sel yang terdapat di daerah ini adalah sel- selnya relatif lebih tahan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh radiasi dan bahan kimia beracun dibandingkan dengan sel yang terdapat di daerah lainnya.

c) Daerah Diferensiasi Sel

Daerah diferensiasi sel merupakan daerah tempat terjadinya pematangan sel. Daerah ini terletak di daerah paling akhir akar.

Pada daerah diferensiasi, sel-sel daerah pemanjangan mulai terspesialisasi struktur dan fungsinya.

Di daerah ini terdapat tiga sistem jaringan yang dihasilkan dari sel-sel meristem, yaitu protoderma, meristem dasar, dan prokambium.

Protoderma adalah lapisan terluar dari meristem primer yang akan berkembang menjadi epidermis.

Meristem dasar adalah lapisan kedua yang akan berkembang menjadi sistem jaringan dasar.

Jaringan dasar ini selanjutnya akan mengisi daerah lapisan korteks yang terdapat diantara stele dan epidermis.

Sementara prokambium adalah lapisan pusat (dalam) yang akan berkembang menjadi stele yang terdiri atas xilem dan floem.

Daerah Diferensiasi, terletak di belakang daerah pemanjangan. Sel-sel di daerah ini telah mengalami diferensiasi.

Artinya sel-sel telah berubah bentuk sesuai fungsinya. Sebagian sel mengalami diferensiasi menjadi epidermis, korteks, empulur, xilem dan floem.

2. Pertumbuhan Batang

Pertumbuhan batang meliputi pemanjangan dan diferensiasi. Daerah pertumbuhannya terletak di ujung batang dengan pembagian daerah yang berbeda-beda.

Pada batang tumbuhan dikotil terjadi pertumbuhan sekunder, yaitu pada kambium.

Kambium pada batang dibedakan menjadi dua yaitu kambium vaskuler (intravaskuler) dan kambium intervaskuler.

Kambium vaskuler adalah kambium yang terdapat di dalam ikatan pembuluh (vasis), berfungsi membentuk xilem (ke arah dalam) dan ke arah floem (ke arah luar).

Sedangkan kambium intervaskuler adalah kambium yang terletak diantara ikatan pembuluh, Adanya kambium intervaskuler yang bersambungan dengan kambium vaskuler akan menyebabkan terbentuknya lingkaran di dalam batang.

Sel-sel kambium membelah ke arah dalam membentuk xilem dan kearah luar membentuk floem.

Xilem yang terbentuk dari aktivitas kambium disebut xilem sekunder dan floem yang terbentuk dari aktivitas kambium disebut floem sekunder.

Pembentukan xilem sekunder dan floem sekunder dipengaruhi oleh musim dan menimbulkan adanya lingkaran tahun.

Kecepatan pertumbuhan antara xilem dan floem berbeda.

Kecepatan pertumbuhan kearah dalam jauh leih cepat, oleh karena itu xilem yang dihasilkan lebih tebal.

Adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan ini mengakibatkan jaringan epidermis dan korteks pada kulit terluar akan rusak (pecah ).

Rusaknya kulit terluar ini dapat membahayakan jaringan yang ada di dalamnya sehingga untuk mengatasi hal tersebut, disebelah dalam jaringan kulit terbentuk kambium gabus ( felogen ).

Feloderm merupakan sel-sel hidup, sedangkan felem merupakan sel- sel mati.

FRASA (Lengkap): Pengertian, Ciri, Jenis, Contoh

Dalam sebuah kalimat tentu memiliki unsur pembentuk yang menyusunnya. Unsur pembentuk kalimat tersebut berupa satuan kata atau bahkan lebih. Sedangkan setiap satuan kata selalu menempati satu fungsi.

Fungsi yang dimaksud dalam kalimat berupa Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Keterangan (Ket.), dan Pelengkap (Pel.). Sedangkan dalam setiap kalimat minimal memiliki fungsi Subjek (S) dan Predikat (P).

Pengertian Frasa

Frasa adalah kelompok kata yang tidak mengandung unsur predikatif, tetapi dapat menduduki fungsi tertentu dalam kalimat. Frasa hanya memiliki satu makna dari unsur pembentuknya.

Untuk lebih jelasnya, simak kalimat di bawah ini.

Contoh frasa: Saat pulang, Adik selalu menghampiri toko kelontong.

Dalam kalimat tersebut, jika diuraikan kita akan menemukan tiga frasa, yaitu saat pulang, selalu mampir, ke toko kelontong, dan milik Pak Budi.

Dikatakan frasa karena dalam satu fungsi terdapat dua kata atau lebih.

  • Saat pulang memiliki fungsi sebagai Keterangan (Ket.)
  • selalu menghampiri memiliki fungsi sebagai Predikat (P)
  • toko kelontong memiliki fungsi sebagai Objek (O)

Sedangkan Adik yang memiliki fungsi Subjek (S) bukanlah termasuk frasa karena dalam satu fungsi hanya terdiri atas satu kata.

Ciri-ciri Frasa

Frasa memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki kata maupun kalimat. Sehingga lebih mudah untuk dibedakannya. Berikut ciri-ciri dari frasa.

  • Dibentuk oleh dua kata atau lebih
  • Bersifat nonpredikatif
  • Mempunyai satu makna gramatikal
  • Menduduki satu fungsi jika dirangkai dalam kalimat

Jenis Frasa

Frasa dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan kategori, konstruksi, dan kelas. Dari masing-masing jenis tersebut memiliki jenis dan ciri-ciri yang berbeda. Berikut jenis-jenis frasa.

1. Berdasarkan Kategori Frasa

Berdasarkan kategori, frasa dibagi menjadi dua, yaitu frasa setara dan frasa bertingkat, serta frasa idiomatik. Berikut uraiannya.

a) Frasa Setara dan Frasa Bertingkat

Frasa setara atau disebut dengan frasa koordinatif merupakan frasa yang memiliki unsur pembangun yang setara. Frasa setara dapat dibuktikan dengan kemungkinan menghubungkan unsur-unsur menggunakan konjungsi dan, atau.

Contoh:

  1. Saat pulang dan pergi ia selalu menggunakan motor.
  2. Jauh atau dekat ia tetap menempuh perjalanan itu.

Frasa bertingkat atau bisa disebut dengan frasa atributif merupakan frasa yang mempunyai unsur pembangun tidak setara. Salah satu unsur dalam frasa ini berperan sebagai inti dan unsur lainnya sebagai atribut atau pelengkap. Misalnya, sedang membaca, hari itu, baik sekali.

Contoh:

  1. Semua siswa sedang membaca novel di taman sekolah.
  2. Semua siswa membaca novel di taman sekolah.

b) Frasa Idiomatik

Frasa idiomatik mempunyai bentuk khusus berupa konstruksi atau susunan yang bersifat tetap. Frasa idiomatik biasanya tersusun atas unsur berupa kata kerja intransitif atau kata sifat dan unsur lain berupa kata depan.

Frasa idiomatik hanya berlaku pada frasa yang telah umum digunakan, serta antar unsur mempunyai pertalian makna. Misalnya kata terkenang selalu bertalian dengan kata akan sehingga membentuk frasa akan terkenang.

Contoh:

  1. Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja yang arif bijaksana.
  2. Banjir itu disebabkan oleh jebolnya tanggul penahan air.
  3. Rumah Pak Budi lebih besar daripada rumah Pak Agus.

Frasa pada zaman dahulu, disebabkan oleh, dan lebih besar daripada dikatakan sebagai frasa idiomatik karena sudah umum digunakan sehingga jika diubah dengan kata lain maka akan membentuk makna lain atau bahkan tidak saling bertalian karena tidak sesuai.

2. Berdasarkan Konstruksi Frasa

Frasa berdasarkan konstruksinya dibagi menjadi dua, yaitu frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. Dari dua jenisi tersebut bisa dilihat perbedaannya dari unsur pembangunnya.

a) Frasa Endosentrik

Adalah jenis frasa yang secara keseluruhan mempunyai pengaturan atau hubungan kata, baik salah satu maupun semua unsur pembangunnya. Frasa ini tidak mengubah inti frasa meskipun salah satu unsur pembangunnya dihilangkan.

Contoh:

  1. Kalista membeli baju baru.
  2. Kalista membeli baju.

Berdasarkan contoh tersebut, frasa endosentris mempunyai unsur pembangun yang boleh tidak digunakan dalam kalimat. Namun makna frasa dalam kalimat tersebut tetap jelas dan tidak samar. Kata baru bisa dihilangkan dan kalimat tersebut masih jelas dan tidak samar.

b) Frasa Eksosentrik

Frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak memiliki distributif yang sama dengan semua unsurnya. Frasa ini tidak memiliki unsur inti sehingga penggunaannya dalam kalimat harus secara utuh atau tidak dapat diperlakukan seperti halnya frasa endosentrik.

Pada intinya unsur pembangunnya harus ada, jika tidak ada maka kalimat tersebut tidak berterima. Frasa eksosentris pada umumnya diawali oleh kata depan. Misalnya, kepada ibunya, dari Surabaya.

Contoh:

  1. Agus memberikan hadiah sebagai bentuk sayang kepada ibunya.
  2. Agus memberikan hadiah sebagai bentuk sayang

Keterangan:

Kalimat (1) berterima karena didahului oleh kata depan kepada. Kalimat (2) tidak berterima karena tidak didahului dengan kata depan. Sehingga kata kepada tidak boleh dihilangkan agar kalimat menjadi berterima.

  1. Rawon setan merupakakn makanan khas yang berasal dari Surabaya.
  2. Rawon setan merupakakn makanan khas yang berasal

Keterangan:

Kalimat (1) berterima karena didahului oleh kata depan dari. Kalimat (2) tidak berterima karena tidak didahului dengan kata depan. Sehingga kata dari tidak boleh dihilangkan agar kalimat menjadi berterima.

3. Berdasarkan Kelas Frasa

Frasa berdasarkan kelasnya, dapat dibagi menjadi enam yaitu frasa nomina, frasa verba, frasa numeralia, frasa adjektiva, frasa adverbia, dan frasa preposisional. Agar lebih mudah mempelajarinya, untuk jenis frasa ini merupakan frasa berdasarkan jenis kata yang membentuknya. Berikut uraian beserta contoh.

a) Frasa Nomina atau Frasa Benda

Frasa nomina yaitu frasa dengan unsur pembangun yang membentuk makna atau inti frasa berupa kata benda atau nomina. Berdasarkan unsur pembangunnya, frasa nomina dapat menduduki posisi subjek, objek, keterangan, atau pelengkap.

Contoh: Anggun membeli buku gambar.

Hal ini dikarenakan frasa buku gambar di kalimat distribusi sama dengan kata benda buku.

b) Frasa Verba atau Frasa Kerja

Frasa verba mempunyai unsur pembangun yang membentuk makna atau inti frasa berupa kata kerja atau verba. Jenis frasa verba biasanya menduduki fungsi predikat dalam kalimat.

Contoh: Radit selalu membaca buku baru di perpustakaan.

Disebabkan karena frasa selalu membaca adalah kata kerja dan distribusinya sama dengan kata kerja membaca.

c) Frasa Adjektiva atau Frasa Sifat

Frasa adjektiva mempunyai unsur pembangun yang membentuk makna atau inti frasa berupa kata sifat atau adjektiva. Frasa adjektiva dalam kalimat dapat berfungsi sebagai keterangan atau pelengkap.

Contoh: Pemandangan di lereng Gunung Bromo sangat indah.

Disebabkan karena frasa sangat indah adalah kata sifat dan distribusinya sama dengan kata sifat indah.

d) Frasa Adverbia atau Frasa Keterangan

Frasa adverbia mempunyai unsur pembangn yang distribusinya sama dengan kata keterangan. Umumnya inti frasa adverbia juga berupa kata keterangan dan dalam kalimat sering menduduki fungsi sebagai keterangan.

Contoh: Aini mencuci baju dengan mesin cuci.

Disebabkan karena frasa dengan mesin cuci adalah kata keterangan yang menunjukkan keterangan cara.

e) Frasa Numeralia atau Frasa Bilangan

Frasa numeralia mempunyai unsur pembangun yang membentuk makna atau inti frasa berupa kata bilangan atau numeralia. Frasa numeralia dapat berfungsi sebagai subjek, objek, keterangan, atau pelengkap dalam kalimat.

Contoh: Hingga saat ini ayah telah memelihara tiga ekor sapi.

Disebabkan karena frasa tiga ekor adalah kata numeralia dan distribusinya sama dengan kata numeralia tiga.

f) Frasa Preposisional atau Frasa Depan

Frasa preposisional merupakan frasa yang diawali dengan kata depan (preposisi), seperti di, ke, dari, untuk, kepada, dengan. Frasa ini dapat menduduki fungsi keterangan atau pelengkap dalam kalimat. Preposisi sebagai unsur pembangun frasa ini disertai berbagai jenis kata.

Contoh: Ayah baru saja sampai dari Jambi.

Disebabkan karena frasa dari Jambi adalah kata berpreposisi sebagai unsur pembangun frasa yang disertai dengan kata preposisi dari.

Nah, itu tadi pengertian, ciri-ciri, jenis, dan contoh dari frasa. Semoga materi tersebut bisa dipahami dengan mudah dan membantu kalian dalam belajar. Terima kasih.