PENGERTIAN RESENSI: Manfaat, Struktur, Unsur, & Contoh

Resensi berasal dari bahsa Latin revidere atau resecere. Artinya, melihat kembali, menimbang, atau menilai. Kegiatan resensi dapat juga dilakukan terhadap karya sastra. Peresensian karya sastra seperti prosa, puisi, maupun drama ditujukan untuk menilai baik buruknya suatu karya.

Istilah resensi dikenal juga dengan sebutan timbangan buku, tujuan buku, dan bedah buku. Tanpa resensi, bobot kualitas dari sebuah buku tidak akan diketahui siapa pun. Isi resensi pun bermacam-macam, mulai dari gambaran karya, pujian, atapun kritikan.

Pengertian Resensi

Resensi adalah tulisan yang berisi pembicaraan atau penilaian terhadap kualitas (kelebihan dan kekurangan) sebuah buku serta rekomendasi mengenai patut atau tidaknya buku tersebut mendapatkan sambutan dari masyarakat.

Meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian, mengungkapkan kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku dengan maksud memberikan informasi isi buku kepada masyarakat luas .

Tujuan Resensi

Dalam penulisan resensi  tentu memiliki tujuan tertentu. Berikut uraian dari tujuan resensi.

  • Menunjukkan kepada khalayak apakah karya itu patut mendapat sambutan atau tidak.
  • Mengulas isi buku berdasarkan unsur yang ada dalam buku atau pun dikaitkan dengan dunia luar.
  • Memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang diungkapkan dalam sebuah buku.
  • Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan.
  • Mengajak membaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan problem yang muncul dalam sebuah buku.
  • Membantu pembaca atau penikmat karya untuk mengetahui latar belakang dan alasan mengepa sebuah kaya dibuat.
  • Mengetahui kualitas karya untuk dibandingkakn dengan karya sejenis lainnya.

Manfaat Resensi

Resensi memiliki beberapa manfaat, di antaranya sebagai berikut:

1. Bahan Pertimbangan

Resensi dapat memberikan gambaran terhadap pembaca terkait suatu karya. Dalam hal ini, resensi dapat memberikan pengaruh terhadap pembaca dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan.

2. Nilai Ekonomis

Resensi yang dimuat pada surat kabar, baik berupa buku, film, maupun yang lainnya tentu akan mendapatkan imbalan.  Imbalan tersebut berupa buku ataupun honor kepada penulisnya.

3. Sarana Promosi

Karya yang diresensi merupakan karya yang masih baru dan belum diketahui oleh banyak orang. Oleh karena itu, perlu adanya resensi agar karya tersebut bisa dikenal oleh banyak orang. Inilah yang disebut sebagai sarana untuk mempromosikan suatu karya.

4. Mengembangkan Kreativitas

Menulis merupakan kegiatan kreatif yang memerlukan keahlian. Menulis resensi juga merupakan salah satu kegiatan kreatif yang perlu dipelajari. Dengan demikian menulis resensi sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas.

Langkah-Langkah Meresensi

Dalam kegiatan resensi tentu ada langkah-langkah yang perlu dilakukan. Hal ini bertujuan  agar memudahkan penulis dalam menyusun dan esensi dari resensi tercapai.

Berikut langkah-langkanya.,

  1. Kenalilah buku mulai dari tema, identitas penerbit, siapa pengarang, dan golongan buku (ekonomi, pendidikan, bahasa, dan lain-lain).
  2. Bacalah buku secara komprehensif, cermat, dan teliti.
  3. Tandailah bagian-bagian buku yang dianggap khusus atau penting.
  4. Buatlah sinopsis atau intisari buku.
  5. Tentukanlah susunan organisasi penulisan isi, bahasa, dan aspek teknis resensi.
  6. Koreksi dan revisilah hasil resensi.

Unsur-Unsur Resensi

Pada bagian ini akan dibahas mengenai unsur-unsur resensi yang meliputi judul resensi, identitas buku, garis besar isi buku, pengungkapan keunggulan, dan kelemahan isi buku.

1. Judul Resensi

Judul resensi pada dasarnya bisa mewakili atau memuat gagasan buku yang ditulis pengarang. Di samping itu, pemilihan judul resensi dapat dibuat peresensi dengan melihat keadaan sosial tempat buku itu dilahirkan.

2. Identitas Buku

Dalam menunjukkan identitas buku, perlu dikemukakan:

  • Judul buku
  • Pengarang buku
  • Penerbit, tempat terbit, waktu terbit
  • Jumlah halaman buku

Dalam identitas buku biasanya disertai gambar sampul buku untuk menarik perhatian. Selain itu, beberapa peresensi mencantumkan harga agar pembaca bisa menyesuaikan.

3. Pendahuluan

Resensi biasanya dibuka dengan dengan sesuatu yang menarik perhatian. Misalnya, keunikan pengarang, latar belakang lahirnya buku, sambutan masyarakat terhadap buku, cuplikan-cuplikan isi buku yang menarik perhatian, dan sebagainya. Terkadang pada bagian pembukaan resensi diawali dengan sebuah pertanyaan.

4. Isi resensi

Bagian isi resensi buku mengungkapkan bagian yang menarik dalam buku. Isi tersebut bisa berupa ungkapan, kalimat, pendapat, dan kutipan isi buku yang menarik untuk menimbulkan minat pembaca.

Bagian isi juga mengungkapkan kelemahan dan kelebihan buku, manfaat yang diperoleh pembaca dengan membaca buku, kebermaknaan isi buku dalam konteks keadaan saat ini, dan siapa saja yang bisa memanfaatkan buku tersebut.

Adapun hal yang dapat dipuji atau dikritik dari sebuah buku adalah isi buku, cara menyajikan buku, bahasa yang digunakan, dan ilustrasi atau gambar-gambar dalam buku.

5. Penutup

Bagian penutup berisi ajakan atau simpulan dari resensi buku. Dalam bagian ini juga disampaikan alasan mengapa buku atau karya tersebut perlu dibaca atau dinikmati pembaca.

Struktur Resensi

Keterampilan membuat resensi karya sastra merupakan keterampilan bermakna yang perlu dipelajari.  Salah satunya adalah mengetahui struktur resensi itu sendiri. Berikut adalah struktur resensi.

1. Identitas

Identitas resensi terdiri atas judul buku, pengarang buku, penerbit, tempat terbit, waktu terbit, dan jumlah halaman buku. Identitas tersebut juga bisa disesuaikan dengan film atau karya sastra lainnya.

2. Orientasi

Orientasi merupakan bagian awal dalam resensi. Bagian ini berfunsi sebagai pembuka yang berisi penjelasan mengenai berbagai penghargaan yang diterima oleh karya yang diresensi.

3. Sinopsis

Sinopsis merupakan ringkasan dari keseluruhan isi karya yang diresensi berdasarkan penulis.

4. Analisis

Analisis merupakan paparan mengenai unsur-unsur dalam karya yang diresensi. Pada buku, bagian ini bisa berisi kutipan-kutipan yang terdapat dalam buku.

Namun pada novel atau film, bagian ini dapat mengulas terkait tema atau tokoh dalam karya.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan bagian pengungkapan mengenai keunggulan dan kelemahan karya yang diresensi.

Contoh Resensi Singkat

Judul Novel: Pesantren Impian

Penulis: Asma Nadia

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Tebal: 314 halaman

“Karena Selalu Ada Kesempatan Kedua”

Pesantren Impian merupakan satu di antara beberapa novel yang telah dilahirkan oleh penulis kenamaan Asma Nadia. Novel ini telah diangkat ke layar lebar pada tahun 2016.

Namun ada yang berbeda jika dibandingkan dengan karya wanita yang sempat mengenyam pendidikan di IPB ini.

Pesantren Impian bisa dikatakan satu-satunya novel misteri bergenre detektif.  Berbeda dengan buku-bukunya yang lain, yang kebanyakan bertema keluarga, percintaan, atau motivasi.

Novel Pesantren Impian ini, mengisahkan gadis-gadis kelam dengan masa lalu beraneka ragam yang mendapat undangan misterius untuk tinggal di Pesantren Impian.

Letak pesantren tersebut berada di Pulau Lhok Jeumpa Aceh. Sebuah pulau terpencil yang bahkan tidak tercantum pada peta Aceh.

Mereka yang jenuh dengan kehidupan kelam sebelumnya, tidak menampik tawaran undangan misterius untuk tinggal di Pesantren Impian tersebut. Pesantren Impian sendiri didirikan oleh Teungku Budiman, sebagai penebus dosa masa lalu yang hitam nan legam.

Sissy dan Inong, mereka kakak beradik meskipun bukan saudara kandung. Sissy model cantik yang bergelimang harta. Ayah dan ibunya tak pernah peduli dengannya. Sejak usia 14 tahun sudah terlibat dengan narkoba.

Berikutnya adalah Rini, yang sempat mencoba bunuh diri namun gagal. Kehamilannya menjadi penyebabnya nekat untuk mengakhiri hidupnya.

Dia tidak pernah tahu laki-laki yang telah merenggut mahkotanya. Ada juga Butet, yang pernah terlibat drugs dealer dan debt collector. Dia merupakan kaki tangan mafia narkoba.

Ada juga Yanti pernah dirawat di klinik rehabilitasi bagi pecandu. Masih ada si kembar Sinta dan Santi, lalu Ita, Iin, Ina, Evi, Ipung, dan Sri.

Berikutnya Eni, polwan yang menyamar demi mengungkap kasus pembunuhan di Tiara Hotel Medan. Diduga pembunuh tersebut satu di antara mereka.

Hari-hari yang mereka lalui sungguh menyenangkan. Mereka disibukkan dengan aktivitas positif dan tentunya semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Tentu mereka telah mengalami banyak perubahan.

Namun ketenangan sedikit terusik saat satu dari gadis-gadis itu dibunuh. Keamanan Pesantren Impian mulai terancam. Semua penghuni menjadi bertanya-tanya, siapa yang telah melakukan pembunuhan itu?

Kelebihan dari novel ini terletak pada rangkaian ceritanya. Alur yang begitu mengalir membuat pembaca dibuat penasaran bagaimana kisah selanjutnya.

Penulis telah berhasil membangun suasana tegang, menakutkan, dan mencekam, yang merupakan gambaran khas novel berjenis misterius.

Di Pesantren Impian itulah, kesempatan kedua bagi gadis-gadis dengan masa lalu kelam mulai bangkit dari kubang yang gelap. Meski niatan tersebut sempat surut oleh teror pembunuhan, namun tidak mengurungkan tekat mereka. Ya, memang butuh tenaga ekstra untuk mendapatkan kesempatan kedua.

Bagian terpenting dari sebuah cerita adalah pesan yang ingin disampaikan penulis. Pesan bahwa kita tidak mampu memutar waktu yang telah dilalui, namun kesempatan kedua itu selalu ada, meskipun yang dilalui tidak semulus jalan tol.

Penulis meyakinkan kepada wanita-wanita yang terlanjur “hancur” di masa lalunya, entah apapun penyebabnya, baik karena narkoba atau pergaulan bebas, bisa berubah atau bermetamorfosis menjadi lebih baik.

Seperti biasa, Asma Nadia berusaha menyampaikan pesan tersebut dengan bahasa yang sederhana, santun, dan mudah dipahami.

Pembelajaran bagi setiap wanita, novel Pesantren Impian mengingatkan kembali bahwa sosok wanita memiliki tugas yang tidak mudah. Bahkan kita sering mendengar istilah wanita atau ibu adalah madrasah ula yang artinya sekolah (pendidikan) pertama bagi anak-anak sebelum mendapatkan pendidikan yang lain.

Wanita yang memahami tugasnya dengan baik, tentu  akan melahirkan generasi penerus bangsa yang baik pula. Sebaliknya, jika kaum wanita tidak mampu memahami perannya, maka harapan melahirkan penerus

Penulis menyampaikan bahwa menjadi seorang wanita tidaklah mudah. Kaum ini dituntut menjadi sekolah pertama dan utama. Padahal waktu kecil tidak semua wanita mendapatkan pendidikan baik dari kedua orang tua.

Barangkali memang benar anggapan bahwa, kita tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang seperti apa. Jangan bersedih atau balas dendam jika belum mendapatkan pendidikan yang baik.

Yang jelas, tetap selalu berusaha menjadi ibu atau ayah yang baik untuk anak-anak kelak.

Demikian ulasan terkait resensi, mulai dari pengertian resensi, struktur, unsur-unsur, dan juga contoh resensi buku. Semoga uraian tersebut bisa dipahami dengan mudah dan memberikan manfaat untuk kalian. Terima kasih.

PENGERTIAN SUDUT PANDANG: Jenis, Macam, dan Contoh di Novel & Cerpen

Dalam sebuah cerita, tentu penulis memiliki teknik dalam membawakan ceritanya. Hal itu dikatakan sebagai sudut pandang. Sudut pandang bisa diartikan sebagai arah pandang penulis dalam menyampaikan ceritanya.

Berikut kami uraikan terkait sudut pandang, mulai dari pengertian, jenis, macam, dan contoh dalam cerpen dan novel.

Pengertian Sudut Pandang

Sudut pandang atau point of view adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita. Dengan kata lain sudut pandang merupakan cara pengarang memandang atau menempatkan dirinya dalam sebuah cerita.

Sudut pandang atau poin of view bisa juga dikatakan sebagai teknik bercerita yang akan menimbulkan “rasa” berbeda pada alur dan cara penyampaian cerita.

Macam-Macam Sudut Pandang

Berdasarkan teori sastra, dijelaskan bahwa sudut pandang memiliki dua macam yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.

Sudut pandang orang pertama dibagi menjadi dua yaitu sudut pandang orang pertama pelaku utama dan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan.

Sudut pandang orang ketiga juga dibagi menjadi dua yaitu sudut pandang orang ketiga serba tahu dan sudut pandang orang ketiga pengamat.

Selain dua jenis sudut pandang tersebut, terdapat jenis sudut pandang yang lain. Sudut pandang campuran dan sudut pandang orang kedua.

Berikut kami uraikan macam-macam sudut pandang tersebut lengkap dengan contohnya.

1. Sudut Pandang Orang Pertama

Sudut pandang orang pertama menggunakan kata ganti “aku” atau “saya” untuk tunggal, sedangkan kata ganti “kami” untuk jamak.

Saat menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis seolah-olah menjadi salah satu tokoh dalam cerita yang dibuat.

Sedangkan bagi pembaca, sudut pandang orang pertama membuat ia seolah-olah melakoni setiap cerita yang dibaca.

Sudut Pandang Orang Pertama (Tokoh Utama)

Sudut pandang orang pertama tokoh utama yaitu teknik dimana penulis digambarkan berada di dalam cerita tersebut sebagai tokoh utama. Semua hal yang dilakukan, dirasakan, atau dipikirkan oleh tokoh “aku” digambarkan dalam cerita.

Contoh sudut pandang orang pertama tokoh utama

Aku tidak tahu sejak kapan. Aku juga tidak tau kapan dan bagaimana. Namun, yang jelas, kini laki-laki sederhana itu menarik perhatianku. Semakin kucoba menemukan penjelasa, justru makin banyak pertanyaan yang muncul. Aku seperti siswa yang diberikan soal paling sukar tanpa didampingi guru. Sungguh aku frustasi dibuatnya.

Keterangan:

Dalam cerpen tersebut, pengarang menggunkaan istilah aku dalam ceritanya dan ia menjadi tokoh utama di dalam cerita tersebut. Jadi dalam hal ini, pengarang itu sendiri menjadi tokoh utamanya.

Sudut Pandang Orang Pertama (Tokoh Sampingan)

Sudut pandang orang pertama tokoh sampingan yaitu teknik dimana penulis digambarkan berada di dalam cerita tersebut sebagai tokoh sampingan.

Dalam hal ini, tokoh aku hanya menjadi peran pendukung, sedangkan tokoh utama menjadi sentral dalam cerita. Tokoh sampingan hanya menjadi saksi dari rangkaian peristiwa yang dialami tokoh utama.

Contoh sudut pandang orang pertama tokoh sampingan

Aku hanya terdiam mengawasi semua gerak-gerik Nadia. Sekonyong-konyong, entah karena apa mata Nadia tiba-tiba berkilat penuh semangat dan percaya diri. Nadia mulai membeberkan presentasinya dengan lancar seperti layaknya profesional.

Keterangan:

Dalam cerpen tersebut, pengarang menggunkaan istilah aku dalam ceritanya dan ia menjadi tokoh sampingan di dalam cerita tersebut. Sedangkan yang menjadi tokoh utama adalah Nadia, yaitu sebagai tokoh sentral.

2. Sudut Pandang Orang Ketiga

Sudut pandang orang ketiga menggunakan kata ganti “dia” dan  “ia” untuk tunggal, atau bisa juga menggunakan nama tokoh. Sedangkan kata ganti “mereka” digunakan untuk jamak.

Kata ganti ini digunakan untuk menceritakan tokoh utama dalam cerita. Pada sudut pandang orang ketiga, penulis berada di luar cerita dan hanya mengisahkan tokoh “dia” dalam cerita.

Sudut pandang orang ketiga (Serba Tahu)

Sudut pandang orang ketiga serba tahu yaitu teknik dimana penulis menggambarkan apa saja terkait tokoh utama.

Penulis seolah tahu semua terkait tokoh utama, mulai dari watak, perasaan, pikiran, kejadian, bahkan latar belakang yang mendalami sebuah peristiwa.

Contoh sudut pandang orang ketiga serba tahu

Pak Harun mengumpulkan semua sepatu ukuran anak-anak. Sepatu tersebut ia angkut ke balik ruangan itu. Ia bermaksud bersembunyi di situ. Dari situ, ia bisa melihat anak-anak bermain sambil bertelanjang kaki di bawah guyuran hujan.

Haikal, Rusman, dan enam anak lainnya masih saja bermain air hujan. Sesekali sambil berkejaran satu sama lain. Tak ada yang sadar jika sepatu mereka telah berpindah tempat.

Keterangan:

Dalam cerpen tersebut, pengarang menggunkaan “nama tokoh” dalam ceritanya. Selain itu, pengarang mengetahui semua detail yang ada dalam cerita tersebut.

Bisa disimpulkan bahwa cerita tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Sudut pandang orang ketiga (Pengamat)

Sudut pandang orang ketiga pengamat sama halnya dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Bedanya, untuk sudut pandang orang ketiga pengamat, dalam menceritakan tokoh utama, tidak sebanyak atau sedetail pengetahuan yang diceritakan oleh sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Sudut pandang orang ketiga pengamat hanya menceritakan sepengetahuannya saja.

Contoh sudut pandang orang ketiga pengamat

Tidak ada yang apa yang ada di benak Sandi. Sepulang dari kerja, ia hanya menunjukkan muka masam. Kali ini dia juga irit dalam berbicara beberapa hari. dengan istrinyapun ia enggan mengucapkan sepatah dua kata. Mungkin masalah gaji yang tak kunjung cair menjadi musabab perang dingin itu.

Keterangan:

Dalam cerpen tersebut, pengarang menggunkaan “nama tokoh” dalam ceritanya. Namun, pengarang tidak menunjukkan detail apa yang terjadi dalam cerita tersebut.

Bisa disimpulkan bahwa cerita tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga pengamat.

3. Sudut Pandang Campuran

Dalam sudut pandang campuran, penulis menggabungkan antara sudut pandang orang pertama dengan sudut pandang orang ketiga. Adakalanya penulis menggunakan masuk ke dalam cerita, lalu ia berada di luar cerita menjadi orang serba tahu.

Selain sudut pandang campuran, ada juga sudut pandang orang kedua, sudut pandang orang pertama jamak, sudut pandang orang ketiga jamak, sudut pandang orang ketiga objektif, dan lain sebagainya. Semuanya akan kami jelaskan di lain kesepatan.

Demikian materi terkait sudut pandang, mulai dari pengertian, jenis, macam, dan contoh dalam cerpen dan novel. Semoga memberikan manfaat dan bisa dipahami dengan mudah. Terima kasih.

Pantun Nasihat: Ciri, Fungsi, Contoh, dan Maknanya

Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang mempunyai aturan bentuk (konvensi) yang sangat mengikat. Pantun berasal dari kesusastraan Melayu Lama atau merupakan puisi asli Indonesia.

Di Indonesia pantun telah dikenal secara luas dengan sebutan yang berbeda-beda. Hal tersebut membuktikan bahwa pantun salah satu genre sastra yang masih hidup di Indonesia.

Ciri-Ciri Pantun

Berikut ini ciri-ciri pantun yang perlu kalian ketahui.

  • Setiap bait terdiri atas 4 larik (baris).
  • Setiap baris terdiri atas 4 kata atau 8-12 suku kata.
  • Sajak akhir (rima) silang dengan pola a-b-a-b.
  • Larik pertama dan kedua berupa sampiran, sedangkan larik ketiga dan keempat berupa isi

Sampiran pada pantun digunakan sebagai pengantar untuk masuk ke dalam bagian isi. Adanya sampiran memudahkan pendengar mengartikan isi pantun. Sedangkan isi pantun merupakan tujuan yang ingin disampaikan oleh penulis atau orang yang berpantun.

Fungsi Pantun

Berikut ini beberapa fungsi pantun yang perlu kalian ketahui.

  • Pantun berfungsi sebagai alat pemelihara bahasa, sehingga mampu menjaga alur berpikir masyarakat.
  • Pantun berfungsi sebagai media untuk menyampaikan maksud hati agar dimengerti tanpa menyinggung perasaan orang yang membaca atau mendengar pantun tersebut.
  • Pantun berfungsi sebagai media hiburan bagi semua golongan, yaitu anak-anak, kaum muda, dan orang tua. Di kalangan anak-anak, beberapa pantun didendangkan saat bermain.
  • Pantun berfungsi menggambarkan dan menyampaikan pandangan hidup (falsafah).

Contoh Pantun Nasihat

Setelah mengetahui pengertian, ciri-ciri, dan fungsi pantun, berikut contoh pantun nasihat dan maknanya.

Contoh Pantun Nasihat Belajar atau Berilmu

(1)

Jalan-jalan ke Kota Siantar

Jangan lupa membeli sukun

Jika kamu ingin pintar

Belajarlah dengan tekun

Makna: orang yang ingin menjadi pandai maka harus rajin belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh.

(2)

Pohon mangga di tepi hutan

Buahnya rimbun warnanya cerah

Apabila kamu ingin meraih kesuksesan

Teruslah belajar jangan menyerah

Makna: orang yang memiliki cita-cita meraih hidup yang sukses, maka harus belajar sungguh-sungguh untuk meraihnya dan jangan mudah putus asa, apalagi mudah menyerah.

(3)

Pergi ke pasar membeli jamu

Tidak lupa membawa tali pengikat

Barang siapa yang memiliki ilmu

Maka tidak akan pernah tersesat

Makna: orang yang mau belajar dan memiliki banyak ilmu maka dalam hidupnya ia tidak akan terjerumus atau tersesat dalam hal buruk.

Contoh Pantun Nasihat Agama

(1)

Bunga kenanga di atas kubur

Pucuk sari pandan Jawa

Apa guna sombong dan takabur

Rusak hati badan binasa

Makna: segala sifat sombong dan takabur yang dimiliki oleh seseorang, tidak akan berguna ketika ia sudah mati. Maka dari itu jangan menjadi orang yang sombong dan takabur.

(2)

Mencari belut di tepi sawah

Banyak katak ikut melompat

Barang siapa rajin ibadah

Maka hidupnya akan selamat

Makna: orang yang rajin dalam beribadah, berusaha melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi segala laranganNya, maka dia akan selamat di dunia maupun di akhirat.

(3)

Sungguh elok bunga di telaga

Harum baunya selalu memikat

Al-Quran harus selalu di dada

Kelak penuntun menuju akhirat

Makna: kita harus senantiasa membaca dan mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Quran, karena nanti di akhirat, dia menjadi petunjuk kita.

Contoh Pantun Nasihat Orang Tua

(1)

Perahu berlayar sampai Malaka

Layar berkibar bertali erat

Jangan jadi anak durhaka

Agar selamat dunia akhirat

Makna: sebagai seorang anak, kita tidak boleh bersikap durhaka kepada kedua orang tua. Hal ini dikarenakan kedua orang tua kita merupakan penyelamat kita di dunia dan di akhirat kelak.

(2)

Banyak kelelawar di dalam gua

Tempat sembunyi sepanjang hari

Sayangilah kedua orang tua

Agar tak menyesal di hari nanti

Makna: sayangilah kedua orang tua kita selagi mereka ada. Jangan membuat mereka sedih dan terluka, karena jika sudah tiada, engkau akan menyesal di kemudian hari.

(3)

Pergi ke pasar membeli jambu

Tidak lupa membeli mangga

Jangan durhaka pada ayah ibu

Karena mereka jalan ke surga

Makna: jangan pernah durhaka kepada ayah dan ibu karena mereka yang akan menuntun kita ke surga.

Itulah materi tentang pengertian pantun, ciri-ciri, fungsi beserta contoh pantun nasihat. Semoga bermanfaat dan bisa memahami dipahami dengan mudah. Terima kasih.

Contoh Paragraf Deduktif, Induktif & Campuran

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, soal terkait paragraf sering kali muncul. Paragraf merupakan suatu rangkaian kalimat yang saling berhubungan dan memiliki suatu gagasan utama. Terkait pola pengembangannya, paragraf memang berbeda-beda tergantung pada tujuan penulisannya.

Dilihat dari letak gagasan utamanya, paragraf dalam wacana bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu paragraf deduktif, induktif dan campuran. Masing-masing paragraf tentu memiliki ciri-ciri dan perbedaan.

Berikut pembahasan lebih detail terkait paragraf deduktif, induktif, dan campuran beserta contohnya.

1. Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak pada awal paragraf.

Pada umumnya paragraf deduktif diawali dengan kalimat  atau pernyataan yang bersifat umum, kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penjelas yang bersifat khusus. Kalimat penjelas khusus berupa contoh-contoh, bukti-bukti, rincian khusus, dan sebagainya terkait pernyataan umum. Maka dari itu, pola pengembangan kalimat paragraf deduktif  ialah umum-khusus-khusus.

Ciri-Ciri Paragraf Deduktif

  • Kalimat utama terletak di awal paragraf.
  • Kalimat disusun mulai dari pernyataan umum kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penjelas.

Contoh Paragraf Deduktif 

Contoh paragraf deduktif singkat 1:

Komputer memiliki tiga komponen esensial, yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Komponen pertama adalah CPU (Central Processing Unit). CPU merupakan otak komputer. Komponen ini memuat memori dari mesin komputer dan microchip yang berfungsi untuk menggerakkan seluruh komponen komputer. CPU juga memiliki satu atau lebih disk drives, tempat meletakkan disket.

Contoh paragraf deduktif singkat 2:

Menjadi penulis artikel tentang pariwisata memang bukanlah pekerjaan yang mewah. Bahkan, beberapa penulis buku di media terkemuka mengeluhkan kecilnya gaji yang diperoleh mereka. Jam  kerja para penulis tersebut juga sangat lama, apalagi saat travelling. Namun penulis tersebut juga mendapatkakn keuntungan dari pekerjaannya, yaitu bisa keliling dunia atau pergi ke tempat yang menakjubkan.

Contoh paragraf deduktif singkat 3:

Pemen yang dilapisi zat besi terbukti efektif untuk memperbaiki status kekurangan zat besi pada anak-anak. Permen bisa membantu anak-anak kekurangan zat dari keluarga berpenghasilan rendah hingga menengah. Permen bisa dijadikan sarana yang murah untuk menanggulangi problem nutrisi yang umum terjadi pada anak-anak di Asia Tenggara. Asal tahu saja, kekurangan zat besi pada masa kanak-kanak dan remaja dapat berakibat fatal.

Contoh paragraf deduktif tentang sosiologi 4:

Individualis merupakan sifat yang mengutamakan kepribadian dan kebebasan diri sendiri. Hal tersebut memungkinkan munculnya sifat egois. Apalagi di wilayah perkotaan atau negara maju, yang kebanyakan memiliki sifat individu. Gaya hidup tersebut dapat menyebabkan solidaritas manusia akakn hilang.

Contoh paragraf deduktif tentang sosiologi 5:

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan antar individu. Proses komunikasi memiliki fungsi yang sangat penting. Proses yang baik akan menghasilkan respon yang paik pula. Namun tidak semua manusia bisa berkomunikasi dengan baik dan efektif. Komunikasi yang efektif penting untuk dipelajari agar tidak menimbulkan perbedaan pesepsi.

Contoh paragraf deduktif tentang kebudayaan 6:

Galeri Nasional Indonesia (GNI), sepanjang tahun ini mengadakan pameran seni. Pameran tersebut berisi karya-karya seniman dari Indonesia sendiri maupun seniman mancanegara. Dua puluh tiga pameran temporer dilaksanakan di GNI ini. Mulai dari pameran karya Entang Wiharso dan Sally Smart yang berjudul Coversation: Endless Acts in Human History yang telah dilaksanakan awal tahun.

Contoh paragraf deduktif tentang lalu lintas 7:

Transportasi menjadi hal utama yang sangat diperhatikan oleh masyarakat, baik yang tinggal di kota maupun di desa. Mode transportasi di kota-kota besar pada umumnya didominasi oleh kendaraan bermesin berbahan bakar minyak. Masyarakat kota memanfaatkan transportasi tersebut untuk mendapatkan akses yang mudah dan nyaman menuju suatu tempat, misalnya kantor, sekolah, atau tempat wisata.

Contoh paragraf deduktif tentang sekolah 8:

Pembelajaran di sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk mendapatkan pengetahuan. Di luar sana banyak sekali informasi yang bisa didapatkan. Mulai di lingkungan tempat tinggal, di tempat umum, atau tempat-tempat menarik lainnya. Untuk itu jangan berpuas diri hanya dengan belajar di sekolah.

Contoh paragraf deduktif tentang pekerjaan 9:

Menjadi pengusaha muda telah menjadi tren di kalangan anak muda. Tidak perlu menunggu lulus atau menjadi seorang sarjana terlebih dahulu agar menjadi seorang pengusaha. Dengan demikian muncul jiwa-jiwa berwira usaha sejak di bangku sekolah. Tentu usaha yang dilakukan berawal dari usaha-usaha kecil atau sederhana. Dengan demikian, begitu lulus pendidikank atau sarjana dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan.

2. Paragraf Induktif

Paragraf induktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak pada akhir paragraf.

Paragraf induktif diawali dengan kalimat-kalimat penjelas berupa fakta, contoh-contoh, rincian khusus, atau bukti, lalu diakhiri dengan kalimat utama. Paragraf induktif dikembangkan dari pola khusus-khusus-khusus-umum.

Ciri-Ciri Kalimat Induktif

  • Diawali dengan penjelasan-penjelasan khsusus.
  • Berikutnya digeneralisasikan menjadi sebuah kesimpulan bersasarkan penjelasan-penjelasan khusus.
  • Kalimat utama terletak di akhir paragraf.

Jenis-Jenis Paragraf Induktif

Paragraf induktif dibagi menjadi empat, yaitu paragraf generalisasi, analogi, sebab-akibat, dan akibat-sebab. Berikut uraian masing-masing paragraf.

a) Paragraf Generalisasi

Paragraf generalisasi adalah paragraf yang diawali dengan hal-hal khusus kemudian diarahkan menjadi suatu kesimpulan umum. Kesimpulan tersebut diperoleh dari kalimat-kalimat khusus yang disebutkan di atasnya.

b) Paragraf Analogi

Paragraf analogi merupakan paragraf yang membandingkan antara dua hal yang memiliki kesamaan atau hampir sama satu sama lain yang akan disimpulkan di akhir paragraf.

c) Paragraf Sebab-Akibat

Paragraf sebab-akibat merupakan paragraf yang kesimpulannya diperoleh dari kalimat-kalimat yang merupakan hal khusus atau sebab pada awal-awal paragraf.

d) Paragraf Akibat-Sebab

Paragraf akibat-sebab merupakan pola pengembangan paragraf yang di awal paragraf mengemukakan tentang akibat-akibat dari suatu sebab yang dipaparkan di akhir paragraf dalam kalimat utama.

Contoh Paragraf Induktif 

Contoh paragraf induktif Genereralisasi singkat 1:

Penggunaan minuman beralkohol bisa berakhir dengan alkohoisme, sirosis hati, atau kerusakan pada jantung. Tidak aktif berolahraga cenderung menderita penyakit jantung koroner dan kerapuhan tulang. Jadi, jelaslah bahwa kebiasaan hidup seseorang, baik atau buruk, menentukan pola hidupnya.

Contoh paragraf induktif Analogi singkat 2:

Memilih sekolah yang tepat sama halnya dengan memilih teman. Agak susah-susah gampang. Dibutuhkan perhitungan yang tepat dan akurat terkait bakat dan minat diri seseorang. Dua hal tersebut harus diterapkan oleh setiap siswa agar tidak salah dalam memilih sekolah, sama halnya dengan mamilih teman.

Contoh paragraf induktif  Sebab-Akibat singkat 3:

Banjir merupakan peristiwa terbenamnya suatu wilayah oleh air dengan jumlah yang banyak. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Kurangnya daerah resapan air merupakan salah satu faktor yang menyebabkan banjir. Penebangan hutan secara liar dan tidak disiplin dalam membuang sampah. Peristiwa banjir mengakibatkan gangguan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial, hingga kesehatan.

Contoh paragraf induktif Akibat-Sebab singkat 4:

Sejumlah bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Mulai dari beras, sayur, dan lauk-pauk. Hal tersebut disebabkan oleh cuaca ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini.  Anomali cuaca tersebut diperkirakan akan berlangsung hingga dua bulan ke depan.

3. Paragraf Campuran

Paragraf campuran adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak pada awal paragraf kemudian diulang lagi pada akhir paragraf.

Paragraf campuran diawali dengan kalimat atau pernyataan yang bersifat umum kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penjelas yang bersifat khusus. Di akhir paragraf terdapat kesimpulan sehingga paragraf campuran memiliki dua kalimat utama. Kalimat tersebut berada di awal dan di akhir paragraf.

Ciri-Ciri Paragraf Campuran

  • Memiliki dua kalimat utama yang terletak di awal dan di akhir paragraf.
  • Terdapat pengulangan kata kunci di bagian awal dan akhir pargraf.
  • Bentuk pola pengembangan : umum-khusus-khusus-khusus umum

Contoh Paragraf Campuran

Contoh paragraf campuran tentang pendidikan:

Pendidikan karakter perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini. Pendidikan karakter ini merupakan pondasi awal terbentuknya pribadi yang baik. Jika anak-anak sudah dibekali, maka segala ilmu dan nasihat akan terserap dengan mudah. Mereka juga akan mampu memilih dan memilah hal-hal yang dianggap baik atau buruk dengan mudah. Jadi, pendidikan karakter  harus ditanamkan sejak dini.

Contoh paragraf campuran tentang lingkungan:

Limbah sisik ikan yang tidak digunakan ternyata masih bisa berguna. Limbah sisik ikan tersebut bisa dimanfaatkan menjadi aneka kerajinan tangan. Di antaranya dibuat kerajinan bunga, aneka pot dan vas bunga, asbak, dan sebagainya. Sisik tersebut tentunya diolah terlebih dahulu agar tidak berbau dan warna lebih menarik. Sehingga limbah sisik ikan yang tidak digunakan menjadi lebih berguna dan bermanfaat.

Contoh paragraf campuran tentang kesehatan:

Jeruk nipis memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Jeruk nipis bisa digunakan sebagai obat batuk alami. Jeruk nipis juga bisa dibuat sebagai minuman yang menyegarkan. Selain itu, jeruk nipis juga dipercaya mampu menurunkan berat badan. Ternyata, jeruk nipis memang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan kita.

Demikian penjelasan materi tentang paragraf deduktif, induktif, dan campuran beserta contohnya. Semoga bermanfaat dan kalian bisa memahami semua materi tersebut dengan mudah. Terima kasih.

Pengertian Paragraf

Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf juga dikenal dengan nama alinea. Paragraf harus memiliki satu pemikiran utama yang menjiwai seluruh paragraf.

Dalam menyusun paragraf kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam beberapa ketukan spasi. Demikian pula, paragraf berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.

Pengertian Paragraf

Paragraf adalah suatu rangkaian kalimat yang saling berhubungan dan memiliki suatu gagasan utama. Minimal terdapat dua kalimat dalam sebuah paragraf, yaitu terdapat kalimat topik dan kalimat penjelas. Namun biasanya dalam sebuah paragraf memiliki tiga kalimat, yaitu satu kalimat topik dan dua kalimat penjelas.

Fungsi Paragraf

Paragraf memiliki beberapa fungsi, di anataranya sebagai berikut:

  • Sebagai pengantar sebuah ide-ide, isi kalimat, dan kalimat penutup pada tulisan yang dibuat oleh penulis.
  • Sebagai media untuk menuangkan pemikiran dan gagasan penulis dalam sebuah karya.
  • Membantu pembaca untuk memahami segala sesuatu mengenai isi dan topik dalam sebuah karya.
  • Membantu penulis untuk menyusun ide-ide terkait tulisan yang akan dibuatnya.
  • Membantu penulis untuk mengembangkan gagasan-gagasan yang berhubungan dengan topik yang akan ditulis.

Ciri-Ciri Paragraf

Paragraf memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Letak kalimat pertama agak menjorok ke dalam dengan lima spasi untuk jenis karangan yang biasa.
  • Tersusun atas beberapa kalimat yang membahas satu kesatuan topik.
  • Hanya memiliki satu kalimat topik dalam satu paragraf.
  • Terdapat kalimat utama dan kalimat penjelas. Kalimat utama merupakan kalimat yang menjadi topik dalam paragraf. Kalimat penjelas merupakan beberapa kalimat yang berfungsi menjelaskan topik.

Jenis-Jenis Paragraf

Jenis paragraf memang bermacam-macam, ditinjau dari berbagai segi. Jenis paragraf tersebut di antaranya berdasarkan fungsi, letak gagasan utama, dan berdasarkan isinya. Berikut uraian jenis-jenis paragraf:

1. Jenis Paragraf Berdasarkan Fungsinya

a) Paragraf Pembuka

Paragraf pembuka merupakan paragraf yang berisikan pernyataan umum yang ditulis untuk menimbulkan rasa keingintahuan pembaca terhadap keseluruhan isi artikel.

b) Paragraf Isi

Paragraf isi merupakan paragraf yang berisi bagian-bagian pokok yang diuraikan dalam suatu karangan.

c) Paragraf Penutup

Paragraf penutup merupakan paragraf yang berisi kesimpulan, saran, harapan, ringkasan, dan penekanan kembali hal-hal penting yang terdapat pada setiap karangan.

d) Paragraf Penghubung

Paragraf penghubung merupakan paragraf yang berfungsi untuk menghubungkan antara paragraf satu ke paragraf lainnya atau karangan satu ke karangan yang lain.

2. Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Gagasan Utama

Berdasarkan letak gagasan utamanya, paragraf dibagi menjadi empat, yaitu paragraf deduktif, induktif, ineratif, dan campuran.

a) Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif merupakan paragraf yang gagasan utamanya terletak pada awal paragraf.

Contoh:

Komputer memiliki tiga komponen esensial, yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Komponen pertama adalah CPU (Central Processing Unit). CPU merupakan otak komputer. Komponen ini memuat memori dari mesin komputer dan microchip yang berfungsi untuk menggerakkan seluruh komponen komputer.

b) Paragraf Induktif

Paragraf induktif merupakan paragraf yang gagasan utamanya terletak pada akhir paragraf.

Contoh:

Penggunaan minuman beralkohol bisa berakhir dengan alkohoisme, sirosis hati, atau kerusakan pada jantung. Tidak aktif berolahraga cenderung menderita penyakit jantung koroner dan kerapuhan tulang. Jadi, jelaslah bahwa kebiasaan hidup seseorang, baik atau buruk, menentukan pola hidupnya.

c) Paragraf Ineratif

Paragraf ineratif merupakan paragraf yang gagasan utamanya di tengah paragraf.

Contoh:

Sarapan di pagi hari sangat penting bagi tubuh karena dapat membuat tubuh lebih berenergi. Sehingga kita bisa beraktivitas dengan secara optimal. Maka dari itu, sarapan di waktu pagi sangatlah penting bagi tubuh kita. Sedangkan makanan yang harus kita konsumsi di waktu sarapan adalah makanan yang sehat dan bergizi, serta cukup mengenyangkan perut kita.

d) Paragraf Campuran

Paragraf campuran merupakan paragraf yang gagasan utamanya terletak pada awal paragraf kemudian diulang lagi pada akhir paragraf.

Contoh:

Jeruk nipis memiliki banyak manfaat. Jeruk nipis bisa digunakan sebagai obat batuk alami. Jeruk nipis juga bisa dibuat sebagai minuman yanyg menyegarkan. Selain itu, jeruk nipis juga digunakan sebagai bumbu dapur. Ternyata, jeruk nipis memang memiliki banyak manfaat bagi kita.

3, Jenis Paragraf Berdasarkan Isinya

Berdasarkan isinya, paragraf dibagi menjadi lima, yaitu paragraf eksposisi, deskripsi, persuasi, argumentasi, dan narasi. Berikut uraian masing-masing:

a) Paragraf Eksposisi

Paragraf eksposisi adalah paragraf yang berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, eksposisi dapat dilengkapi dengan grafik, gambar, atau statistik.

Contoh:

Gendang merupakan salah satu jenis alat musik tradisional. Bahan yang digunakan untuk membuat gendang yaitu kayu bulat yang berbentuk tong dengan kedua ujungnya berlubang. Ukuran setiap lubangnya berbeda agar bunyi yang dihasilkan berbeda.

Permukaan lubang dipasangi kulit. Biasanya kulit yang digunakan adalah kulit sapi atau domba. Permukaan kulit itulah yang dipukuli oleh pemain gendang.

Permukaan kulit gendang yang berukuran besar apabila dipukul akan menghasilkan suara lebih rendah. Pemain gendang biasanya meletakkan bagian gendang yang permukaannya lebih besar pada sisi kanan dan diletakkan di atas penyanggah kayu sehingga letaknya lebih tinggi.

b) Paragraf Deskripsi

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang tujuannya memberikan gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengarkan, atau merasakan hal tersebut.

Contoh:

Air terjun Temam merupakan objek wisata alam berupa air terjun. Objek wisata tersebut berlokasi 11 km ke arah selatan dari pusat Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan. Ketinggian airnya sekitar 12 m dengan lebar 25 m. Lokasinya dikelilingi batu-batuan alam serta pepohonan yang hijau. Kondisi lingkungan alamnya terlihat masih alami.

c) Paragraf Persuasi

Paragraf persuasi merupakan paragraf yang bertujuan memengaruhi pembaca untuk melakukan sesuatu. Dalam paragraf persuasi, pengarang mengharapkan adanya sikap motorik (tindakan) berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam paragrafnya.

Contoh:

Tahukan kalian apa itu methanyl yellow? Methanyl yellow (kuning metanil) merupakan pewarna buatan berbentuk bubuk yang berwarna kuning kecoklatan. Pewarna buatan dilarang untuk dikonsumsi karena jika masuk ke dalam tubuh menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, kulit, mata, kerusakan jaringan dan peradangan ginjal. Nah, mulai sekarang jangan mengonsumsi makanan yang mengandung Methanyl yellow.

d) Paragraf Argumentasi

Paragraf argumentasi merupakan paragraf yang bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat atau simpulan dengan data atau fakta sebagai alasan atau bukti. Dalam argumentasi, pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya opini, data, fakta, atau alasan merupakan penyokong opini.

Contoh:

Saat ini, hampir semua produk pangan olahan menggunakan bahan pengawet buatan. Tujuannya adalah agar prodik pangan menjadi tahan lama, tidak cepat rusak atau busuk. Namun ternyata tidak semua pengawet buatan itu aman bagi tubuh.

Salah satu contohnya adalah pengawet buatan jenis natamisin. Pengawet jenis itu biasa digunakakn pada produk daging olahan dan keju. Penggunaan natamisin secara berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, tidak nafsu makan, diare, dan luka di kulit.

e) Paragraf Narasi

Paragraf narasi merupakan paragraf yang bertujuan untuk menceritakan peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Dalam kejadian itu terdapat tokoh yang menghadapi suatu konflik. Narasi juga bisa dikatakan sebagai cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.

Contoh:

Pagi itu kebetulan hari libur, Faiz ikut ibunya ke pasar. Ia membawa ekor ayam untuk dijual. Hasil penjualan mereka gunakan untuk biaya hidup sehari-hari. Sepulang dari pasar Faiz menemukan dompet yang berisi banyak uang. Ia menghampiri seorang lelaki sedang mencari-cari sesuatu di pinggir jalan. Ternyata dia pemilik dompet itu. Faiz memeberikan dompet tersebut pada laki-laki itu. Laki-laki itu memaksa memberi Faiz sejumlah uang. Faiz pun berterima kasih kepada lelaki dermawan itu.

Nah, itu tadi materi terkait paragraf, mulai dari pengertian fungsi, ciri-ciri, jenis-jenis, dan contohnya. Semoga bermanfaat dalam pembelajaran dan tentunya kalian bisa memahaminya dengan mudah. Terima kasih.

Pengertian Verba Pewarta dan Contohnya

Pada pembelajaran bahasa Indonesia, sering kita menjumpai beragam jenis verba.

Salah satunya adalah verba pewarta.

Berbeda dengan verba transitif, verba intransitif, verba material, dan verba tingkah laku yang sudah kita ketahui. Jenis verba pewarta memang agak asing di telinga kita.

Namun sebenarnya kita sering menemukan verba pewarta atau menggunakan jenis verba tersebut.

Singkatnya, verba atau kata kerja merupakan kata yang menyatakan makna perbuatan, pekerjaan, tindakan, proses, atau keadaan.

Verba biasanya menempati fungsi predikat dalam kalimat.

 Pengertian Verba Pewarta

Verba pewarta adalah kata kerja yang digunakan untuk mengindikasikan suatu percakapan. Verba pewarta menjadi salah satu ciri kaidah kebahasaan pada teks berita, hal ini dikarenakan pada teks berita terdapat keterangan, verba pewarta, dan verba transitif sebagai ciri kaidah kebahasaan lainnya.

Verba pewarta memiliki ciri yang berbeda dengan jenis verba yang lainnya.

Ciri khas dari verba pewarta di antaranya:

  • Verba pewarta digunakan untuk mengindikasikan suatu percakapan.
  • Verba pewarta merupakan salah satu ciri kebahasaan dari teks berita.
  • Verba pewarta memiliki sifat memberi tahu kepada orang lain atau masyarakat luas.
  • Contoh verba pewarta adalah kata yang memiliki sifat mewartakan.

Contoh kata tersebut di antaranya mengatakan, memaparkan, menjelaskan, memberitakan, menuturkan, menyampaikan, mengungkapkan, menyatakan dan sebagainya.

Contoh Verba Pewarta

Agar lebih mudah dalam memahami kata kerja pewarta, di bawah ini beberapa contoh penggunaan kata kerja pewarta dalam kalimat.

1. Kata Mengatakan

Kalimat: Pemenang Nobel dan ahli biofisika Michael Levitt mengatakan bahwa peningkatan jumlah kematian terkait kasus covid-19 akan terus berkurang dari hari ke hari.

2. Kata Memaparkan

Kalimat: William B. Grant, seorang peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan di California memaparkan bahwa sinar UVA memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko melanoma alias kanker kulit dibandingan dengan UVB.

3. Kata Menjelaskan

Kalimat: Penata Rambut Diane Stevens menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan yang kaya vitamin A, B, dan C dapat membantu memastikan kulit kepala tetap sehat. Nutrisi ini sangat penting untuk sistem peredaran darah dan pertumbuhan sel, serta mendukung sistem kekebalan tubuh yang membantu melawan ketombe.

4. Kata Memberitakan

Kalimat: PT PLN (Persero) memberitakan bahwa tagihan listrik bulan April akan dihitung dari pemakaian rata-rata 3 bulan terakhir. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran wabah virus corona, sehingga pencatatan dan pemeriksaan stand meter pelanggan ditangguhkan sementara waktu.

5. Kata Menuturkan

Kalimat: Tim pelatih Madura United menuturkan bahwa ia tidak khawatir membiarkan para pemainnya berlatih secara mandiri tanpa pengawasan. Tim pelatih hanya memberikan satu tugas selama masa libur sebelum kegiatan tim dihentikan sementara.

6. Kata Menyampaikan

Kalimat: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyampaikan bahwa pendaftaran Kartu Pra Kerja dibuka pada bulan April 2020. Pada tahap awal akan dilakukakn untuk sosialisasi ke masyarakat.

7. Kata Mengungkapkan

Kalimat: Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, mengungkapkan bahwa hingga saat ini total jumlah pasien Covid-19 di Indonesia mencapai 790 kasus.

8. Kata Menyatakan

Kalimat: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiwo menyatakan kondisi tukar rupiah mulai menguat dan stabil sejak Selasa (24/03/2020) lalu. Pelemahan rupiah saat ini berbeda eskalasinya dibandingkan tahun 1998.

Demikian pembahasan terkait verba pewarta beserta contohnya. Semoga kalian bisa memahami materi tersebut dengan mudah dan menambah ilmu pengetahuan tentang bahasa.

Verba Material dan Verba Tingkah Laku

Dalam teks bahasa Indonesia, penggunaan verba material dan verba tingkah laku cukup sering kita temui. Di antaranya terdapat pada teks prosedur kompleks, teks eksposisi, dan teks cerita sejarah.

Untuk mengetahui perbedaan antara verba material dan verba tingkah laku, mari kita dalami keduanya.

Verba atau kata kerja merupakan kata yang menyatakan makna perbuatan, pekerjaan, tindakan, proses, atau keadaan.

Verba merupakan bagian penting dalam kalimat.

Verba biasanya menempati fungsi predikat dalam kalimat.

Pengertian Verba Material dan Verba Tingkah Laku

Berikut ini penjelasan tentang verba material dan verba tingkah laku.

Veba Material

Verba Material adalah kata kerja yang menyatakan suatu tindakan atau perbuatan.

Kata kerja ini banyak digunakan dalam aktivitas berbahasa karena menunjukkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh objek yang sedang diperbincangkan.

Struktur kalimat dengan verba material adalah sebagai berikut:

Subjek + Verba Material + Objek

Contoh dalam kalimat:

Ardiansyah (Subjek) menjenguk (Verba Material) Irwan (Objek)  yang sedang sakit (Pelengkap) di rumah sakit (Ket. Tempat)

Contoh penggunaan verba material dalam kata dan kalimat:

KataKalimat
MelihatAyah melihat buah mangga yang sudah matang di pohonnya.
MengambilKakak mengambil tangga yang tergeletak di gudang.
MemasakAdik memasak sayur bayam kesukaanku.
MenjualTukang sayur itu juga menjual berbagai buah-buahan segar.
MengangkatRaisa mengangkat jemuran yang sudah kering.

Verba Tingkah Laku

Verba tingkah laku adalah kata kerja yang mengacu pada tindakan yang dilakukan dengan ungkapan (bukan sikap mental yang tidak tampak).

Tindakan dengan ungkapan ini maksudnya lebih pada sesuatu yang sulit untuk dilihat secara langsung atau secara fisik.

Verba tingkah laku memiliki karakteristik kata kerja yang mengacu pada ungkapan. Selain itu, kata kerja tingkah laku mengacu pada respon subyek berupa sikap yang diungkapkan setelah tindakan.

Verba tingkah laku mengacu pada sesuatu yang sulit dilihat secara langsung atau secara fisik.

Contoh penggunaan verba tingkah laku dalam kata dan kalimat:

KataKalimat
MemikirkanNaila selalu memikirkan laki-laki yang ia cintai.
MerasakanIbu merasakan rindu kepada nenek di kampung.
MemahamiNatasya sangat memahami materi sejarah yang diajarkan Pak Budi.
MenyukaiBanyak orang menyukai lagu ciptaan Iwan Fals.
MenerimaMaida menerima permintaan maaf dari Nana.

Demikian materi tentang verba material dan verba tingkah laku. Kalian telah mempelajarinya mulai dari pengertian hingga contoh dalam kalimat.

Ketika kalian menemukan verba tersebut dalam berbagai teks bahasa Indonesia sudah tidak bingung lagi.

Verba Transitif dan Intransitif serta Contohnya

Pada kali ini kita akan membahas tentang verba. Verba sama halnya dengan kata kerja.

Verba sendiri memiliki dua jenis yaitu verba transitif dan verba intransitif.

Dari kedua jenis verba tersebut tentu memiliki perbedaan masing-masing.

Pengertian Verba

Verba atau kata kerja adalah kata yang menyatakan makna perbuatan, pekerjaan, tindakan, proses, atau keadaan. Verba biasanya menempati fungsi predikat dalam kalimat.

Bentuk Kata Kerja

Sebelum membahas lebih detail tentang verba transitif dan verba intransitif, simak dulu beberapa bentuk kata kerja.

  • Kata kerja dasar merupakan kata kerja yang berupa kata dasar yang tidak mendapat imbuhan. Contohnya: makan, duduk, tidur, pulang, pergi, dan mandi.
  • Kata kerja berimbuhan merupakan kata kerja yang telah mendapatkan imbuhan. Contohnya: memakan, menduduki, tertidur, memulangkan, bepergian, dan memandikan.
  • Kata kerja aktif merupakan kata kerja yang digunakan untuk menerangkan hal yang dilakukan langsung oleh subjek. Contohnya: menyiram, membuang, dan menyapu.
  • Kata kerja pasif merupakan kata kerja yang digunakan untuk menerangkan hal yang dikenai pada subjek sebagai tujuan dari perbuatan. Contohnya: disiram, dibuang, dan disapu.

Verba Transitif dan Verba Intransitif

Verba dibagi menjadi dua jenis yaitu verba transitif dan verba intransitif.

Keduanya memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Berikut penjelasan lebih jelas dari verba transitif dan verba intransitif.

1. Pengertian Verba Transitif

Verba transitif adalah kata kerja yang memerlukan objek atau pelengkap dalam kalimat.

Kata kerja transitif tidak dapat menjelaskan maksud kalimat jika tidak disertai dengan objek atau pelengkap.

Dengan kata objek atau pelengkap wajib hadir dalam kalimat tersebut.

Contoh Kalimat Verba Transitif

  1. Kucing itu menangkap anak burung merpati.
  2. Ibu mengatakan bahwa kakak akan datang.

Keterangan:

Kalimat 1: kata menangkap merupakan kata kerja transitif karena membutuhkan objek atau pelengkap dalam kalimat.

Dalam kalimat tersebut, anak burung merpati menempati fungsi sebagai objek. Dengan adanya objek membuat kalimat tersebut berterima.

Kalimat 2: kata mengatakan merupakan kata kerja transitif karena membutuhkan pelengkap dalam kalimat.

Dalam kalimat tersebut, bahwa kakak akan datang menempati fungsi sebagai pelengkap. Dengan adanya pelengkap membuat kalimat tersebut berterima.

2. Pengertian Verba Intransitif

Verba Intransitif adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek atau pelengkap dalam kalimat.

Kata kerja intransitif dapat menjelaskan maksud kalimat dengan atau tanpa objek dan pelengkap.

Kalimat dengan kata kerja intransitif terdiri atas subjek dan predikat saja.

Contoh Kalimat Verba Intransitif

  1. Ayah tertidur dengan pulas.
  2. Ibu sedang memasak opor ayam.

Keterangan:

Kalimat 1: kata tertidur merupakan kata kerja intransitif karena tidak membutuhkan objek atau pelengkap dalam kalimat.

Dalam kalimat tersebut, dengan pulas menempati fungsi sebagai pelengkap. Tanpa adanya pelengkap membuat kalimat tersebut masih berterima, yaitu menjadi kalimat “Ayah

Kalimat 2: kata memasak merupakan kata kerja intransitif karena tidak membutuhkan objek dalam kalimat.

Dalam kalimat tersebut, opor ayam menempati fungsi sebagai objek. Tanpa adanya objek membuat kalimat tersebut masih berterima, yaitu menjadi kalimat “Ibu sedang

Perbedaan Verba Transitif dan Intransitif

Agar mudah dalam membedakan verba transitif dan intransitif, perhatikan tabel di bawah ini!

PerbedaanTransitifIntransitif
Objek dan pelengkapMembutuhkan objek atau pelengkapTidak membutuhkan objek atau pelengkap
Bentuk pasifBisa diubah ke dalam bentuk pasifTidak bisa diubah ke dalam bentuk pasif
Imbuhan yang digunakanme-, memper-, memper-kan, me-i. Memper-i, me-kan.Verba dasar, ber-, ber-kan, ter-, ke-an

Demikian penjelasan mengenai pengertian verba transitif dan intransitif beserta perbedaannya. Semoga materi yang kami berikan memudahkan kamu dalam memahami penggunaan kata kerja tersebut. semoga bermanfaat.

PENGERTIAN PUISI: Struktur, Unsur, Ciri, Jenis-Jenis

Puisi adalah ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Seberapa menariknya puisi ditentukan oleh beberapa faktor.

Dan puisi yang baik adalah puisi yang jujur mengungkapkan perasaan isi hatinya.

Untuk lebih jelasnya, masi simak materi tentang puisi di bawah ini!

Pengertian Puisi

Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, diberi irama dengan bunyi yang padu, dan diberi kata-kata kiasan (imajinatif).

Kata-kata dalam puisi betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Jadi walaupun singkat dan padat, kata-katanya tetap kuat.

Salah satu usaha penyair dalam membuat puisi adalah memilih kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi (rima). Kata-katat itu memiliki makna yang lebih luas dan lebih banyak.

Kata yang dipilih berupa konotasi atau makna tambahan dan dibuat sesuai gaya penyair dengan bahasa figuratif.

Ciri-ciri Puisi

Puisi memiliki ciri-ciri tersendiri sehingga membedakan dengan karya sastra yang lainnya. Berikut uraian ciri-ciri puisi.

  • Terdiri atas beberapa baris atau kalimat
  • Memiliki rima atau sajak yang teratur
  • Memiliki makna konotatif atau bukan makna sebenarnya
  • Bahasa yang digunakan lebih padat jika dibandingkan prosa dan drama

Unsur-Unsur Puisi

Di dalam puisi terdapat unsur-unsur yang membangunnya. Unsur puisi tersebut terdiri atas struktur fisik dan struktur batin.

Berikut uraian dari masing-masing unsur.

Struktur Fisik Puisi

Struktur fisik puisi merupakan unsur puisi yang bisa diamati langsung oleh mata. Struktur fisik puisi terdiri atas diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, rima atau ritme, dan tipografi.

Berikut uraiannya masing-masing.

1. Diksi adalah pemilihan kata yang digunakan oleh penyair untuk menimbulkan kesan sesuai dengan apa yang diinginkan.

Pemilihan kata juga harus berkaitan dengan ketepatan dan kejelasan makna. Kata tersebut harus mampu melambangkan atau menggambarkan naksud yang ingin disampaikan penyair.

2. Imaji atau citraan adalah penggunaan kata atau susunan kata yang dapat menimbulkakn imajinasi atau khayalan.

Imaji memberikan gambaran agar pembaca/pendengar seolah-oleh melihat (imajinasi visual), mendengar (imajinasi auditif), dan meraba atau menyentuh benda-benda (imaji taktil) yang terkandung dalam puisi.

Citraan meliputi citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, perabaan dan pergerakan.

3. Kata konkret adalah kata yang digunakan dalma puisi untuk membangkitkan imajinasi pembaca.

Dengan demikian pembaca dapat melihat, mendengar, atau merasakan hal yang dirasakan penyair.

Selain itu pembaca dapat membayangkan secara jelas perisiwa atau keadaan yang dilukiskan penyair

4. Bahasa Figuratif (Majas) adalah pemakaian bahasa dengan cara melukiskan sesuatu dengan konotasi khusus sehingga arti sebuah kata bisa mempunyai banyak makna.

Ada beberapa jenis majas yaitu majas perbandingan, pertentangan, pertautan, dan sindiran.

5. Rima atau ritme adalah persamaan bunyi.

Rima sendiri merupakan pengulangan bunyi, sedangkan ritme merupakan pengulangan kata, frasa, atau kalimat dalam puisi.

Makna yang ditimbulkan adanya rima dan ritme semakin membuat puisi indah dan makna semakin kuat.

6. Tipogrfi atau tata wajah adalah bentuk format suatu puisi berupa pengaturan baris, batas baris kanan kiri atas bawah, jenis huruf yang digunakan.

Tipografi dalam puisi mementingkan gambaran visual dengan menonjolkan bentuk atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar.

Struktur Batin Puisi

Struktur batin puisi merupakan unsur pembangun puisi berupa makna yang tidak terlihat oleh mata.

Struktur batin puisi meliputi tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanat.

Berikut uraiannya.

1. Tema adalah gagasan pokok yang diungkapkan penyair dalam puisinya.

Tema berfungsi sebagai landasan utama penyair dalam puisinya dan menjadi kerangka pengembangan sebuah puisi.

Jika landasan awalnya tentang ketuhanan, keseluruhan struktur puisi itu tidak lepas dari ungkapan-ungkapan ketuhanan.

2. Nada dan suasana adalah satu kesatuan dalam sebuah puisi.

Nada adalah sikap penyair kepada pembaca. Sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca sebuah puisi.

Bisa dikatakan bahwa suasana adalah akibat yang ditimbulkan puisi terhadap jiwa pembaca.

3. Perasaan adalah susuatu hal yang dilatari oleh latar belakang penyair, misalnya agama, pendidikan, kelas sosial, jeis kelamin, pengalaman, dan sebagainya.

Perasaan tersebut bisa berupa kerinduan, kegelisahan, pengagungan kepada Tuhan, pengagungan kepada alam, dan lainnya.

4. Amanat adalah pesan dan tujuan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca melalui puisinya. Pesan puisi umumnya bersifat terseirat.

Namun demikian kita dapat menangkap amanat sebuah puisi dengan cara menelaah setelah memahami tema, nada dan suasana, dan perasaan.

Jenis-jenis Puisi

Pada umumnya, puisi terbagi menjadi tiga jenis yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer.

Berikut penjelasan masing-masing.

1. Puisi lama

Puisi lama merupakan puisi yang dihasilkan sebelum abad ke-20. P

uisi ini memiliki ciri yang khas, yakni tidak dikenal nama pengarangnya (anonim), disampaikan secara lisan atau dari mulut ke mulut, dan terikat oleh aturan (jumlah baris, bait, suku kata, dan rima).

Berikut jenis-jenis puisi lama.

  • Pantun adalah puisi yang terdiri atas empat larik dengan rima akhir ab-ab. Pantun juga memiliki beberapa jenis yaitu pantun jenaka, pantun nasihat, pantun anak, dan sebagainya.
  • Mantra adalah kata-kata yang dianggap memiliki kekuatan Namun kata-kata tersebut hanya bekerja pada orang-orang tertentu. Dengan kata lain tidak sembarang orang bisa mendatangkan kekuatan tersebut. Mantra digunakan untuk acara tertentu, misalnya menolak turunnya hujan.
  • Karmina adalah puisi yang bentuknya lebih pendek dari pantun. Karena pendek sehingga karmina dikatakan sebagai pantun kilat.
  • Seloka adalah pantun berkait yang berasal dari Melayu klasik berisi pepatah.
  • Gurindam adalah puisi lama yang terdiri atas dua bait dan di setiap bait terdiri atas dua baris. Gurindam memiliki rima yang sama yaitu aa dan berisi nasihat dan amanat.
  • Syair adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris dengan bunyi akhiran yang sama yaitu aa-aa. Syair menceritakan tentang kisah yang mengandung amanat yang ingin disampaikan penyairnya.
  • Talibun adalah pantun yang lebih dari empat baris dan memiliki rima abc-abc.

2. Puisi Baru

Puisi baru adalah puisi yang lebih bebas jika dibandingkan dengan puisi lama. Puisi baru sama sekali tidak terikat oleh aturan, baik jumlah baris, bait, suku kata, dan rima.

Puisi baru memiliki beberapa jenis, di antara balada, himne, ode, epigram, romance, elegi, satire, distikon, terzina, kuatren, kuint, sekstet, septima, oktaf/stanza, dan soneta.

Berikut uraiannya masing-masing.

  • Balada adalah puisi yang berisi kisah atau cerita.
  • Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
  • Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
  • Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup.
  • Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
  • Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis atau kesedihan.
  • Satire adalah puisi yang berisi sindiran atau kritik.
  • Distikon adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas dua baris (dua seuntas).
  • Terzina adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas tiga baris (tigaseuntas).
  • Kuatren adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas empat baris (empat seuntas).
  • Kuint adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas lima baris (lima seuntas).
  • Sekstet adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas enam baris (enam seuntas).
  • Septima adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntas).
  • Oktaf/stanza adalah puisi yang masing-masingbait terdiri atas delapan baris (delapan seuntas).
  • Soneta adalah puisi yang terdiri atas 14 baris yang dibagi penjadi dua. Bagian pertama terdiri atas dua bait yang masing-masing bait ada empat baris. Bagian kedua terdapat dua bait yang masing-masing terdiri atas tiga baris. Soneta merupakan puisi yang paling terkenal karena terkesan susah diciptakan.

3. Puisi Kontemporer

Puisi kontemporer adalah puisi yang menyimpang atau melakukan inovasi dari konvensi yang ada.

Puisi kontemporer bisa diamati dari segi tipografi yang sangat berbeda.

Selain itu terdapat kosa kata yang menyimpang tak lazim.

Dalam puisi kontemporer kerap dijumpai kata yang tidak memiliki makna leksikal sehingga sulit dipahami.

Puisi kontemporer dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Puisi mantra yaitu puisi kontemporer yang mengambil sifat-sifat dari mantra.
  2. Puisi mbeling yaitu puisi yang sama sekali tidak mengikuti aturan umum dan ketentuan dalam puisi.
  3. Puisi konkret yaitu puisi yang mengedepankan bentuk fisik (wajah dan bentuk lainnya) dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media.

Cara Membuat Puisi (+Tips)

Dalam menciptakan puisi tentu ada beberapa tahap. Tentu tahap tersebut dirasa bisa membantu dalam menciptakakn sebuah puisi.

Namun setiap orang memiliki proses kreatif tersendiri dalam menciptakan puisi.

Berikut langkah-langkah dalam membuat puisi:

1. Menentukan Tema

Menulis puisi haruslah diawali dengan sebuah tema. Untuk menentukan sebuah tema, kalian dapat mengingat perjalanan hidup atau sesuatu yang tengah dirasakan atau dipikirkan.

Misalnya terkait dengan kehidupan sosial, budaya, masalah-masalah kemanusiaan, atau alam semesta.

2. Menentukan Kata Kunci

Kata kunci merupakan kata-kata yang berkaitan dengan tema. Kembangkan kata kunci menjadi kalimat.

Pilihlah kata yang mampu menimbulkan imaji yang kuat (penglihatan, pendengaran, dan perabaan).

3. Menggunakan Gaya Bahasa

Gaya bahasa akan membuat puisi menjadi indah. selain itu kalian bisa memanfaatkan macam-macam majas agar pembaca tidak bosan membacanya.

4. Mengembangkan Puisi

Mengembangkan kata kunci menjadi kalimat-kalimat yang indah dan mampu mewakili perasaan kalian.

Pilihlah kata yang padat dan mengandung makna di dalamnya.

5. Menentukan Judul

Judul puisi tidak sama dengan tema. Jika tema adalah gagasan pokok, maka judul adalah label yang mewakili isi puisi tersebut.

Buatlah judul puisi yang menarik, yang mampu mewakili isi puisi. Membuat judul puisi tidak harus di awal. Judul puisi bisa dibuat saat puisi sudah selesai dibuat.

Cara Membaca Puisi yang Baik

Dalam membaca puisi tentu tidak sama dengan membaca cerpen, novel, atau berita, dibutuhkan teknik dalam membaca puisi agar kita bisa merasakan pesan yang akan disampaikan penyair dalam puisi tersebut.

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikakn dalam membaca puisi.

  1. Ekspresi, berupa mimik wajah yang sesuai dengan isi puisi.
  2. Gesture, yaitu bahasa tubuh saat pembacaan puisi.
  3. Artikulasi, yaitu kejelasan dan ketepatan dalam pelafalan.
  4. Irama, yaitu panjang pendek dan tinggi rendahnya suara.
  5. Intonasi, yaitu penekanan pada kata-kata tertentu.
  6. Volume, berupa keras rendahnya suara.

Demikianlah penjelasan tentang puisi. Semoga materi ini bisa bermanfaat dan membantu kalian dalam belajar. Terima kasih.

CERPEN: Pengertian, Ciri, Unsur, Struktur Fungsi

Salah satu genre (bagian) yang terdapat dalam prosa adalah cerpen. Sebagai bentuk karya sastra, cerpen memiliki ciri khas tersendiri. Kelebihan dalam sebuah cerpen terletak dalam hal penyampaian bentuk permasalahan cerita yang serba ringkas.

Pengertian Cerpen

Cerita pendek (cerpen) adalah salah satu jenis karya sastra yang berwujud prosa dan bersifat fiktif yang mengisahkan problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang secara ringkas.

Cerpen memiliki wujud atau struktur fisik yang pendek. Ukuran panjang pendeknya suatu cerita memang relatif.

Pada umumnya cerita pendek merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau setengah jam sehingga cerpen juga disebut sebagai cerita yang habis dibaca sekali duduk.

Jumlah kata yang terdapat dalam cerpen tidak lebih dari 10.000 kata.

Ciri-Ciri Cerpen

Tentu cerpen memiliki ciri yang khas, namun tidak jauh berbeda dengan novel maupun novelet. Berikut ciri-ciri dari cerpen.

  • Jumlah kata tidak lebih dari 10.000 kata.
  • Habis dibaca dalam sekali duduk.
  • Bersifat fiktif atau rekaan.
  • Hanya memiliki satu alur atau disebut juga alur tunggal.
  • Isi cerita berasal dari kehidupan sehari-hari.
  • Diksi atau pilihan kata bersifat sederhana dan mudah dipahami.
  • Penggambaran tokoh dalam cerpen sangat sederhana.
  • Hanya beberapa peristiwa dalam hidup yang diangkat.
  • Amanat yang disampaikan sangat mendalam sehingga pembaca merasakan isi dari cerpen tersebut.

Struktur Cerpen

Berikut struktur yang terdapat dalam cerpen:

  1. Abstrak merupakan gambaran bagian awal cerita yang akan diceritakan. Bagian ini bersifat opsional atau pilihan, sehingga boleh ada atau tidak ada.
  2. Orientasi merupakan bagian yang menggambarkan waktu, tempat, dan suasana dalam dalam cerpen tersebut.
  3. Komplikasi merupakan urutan kejadian atau peristiwa yang dihubungkan secara sebab akibat. Karakter tokoh bisa terlihat dalam bagian ini.
  4. Evaluasi merupakan bagian konflik yang sedang terjadi dan menuju pada klimaks serta mulai mendapatkan penyelesaian dari konflik tersebut.
  5. Resolusi merupakan bagian yang mengungkapkan solusi dari masalah yang sedang dialami oleh tokoh dalam cerpen.
  6. Koda merupakan nilai atau pelajaran yang bisa diambil dari teks cerita pendek oleh pembaca.

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen

Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun cerpen dari dalam. Unsur intrinsik terdiri atas tema, penokohan, latar, alur, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa. Berikut uraian dari masing-masing unsur tersebut:

1. Tema

Tema adalah inti atau gagasan utama yang menjadi dasar cerita sebuah cerpen.

Tema cerpen beragam, namun biasanya bersifat sederhana. Tema umumnya diungkapkan tersirat dan dapat diketahui setelah membaca cerpen secara keseluruhan.

2. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa atau urutan cerita dalam cerpen.

Alur memiliki pola pengembangan yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat.

Alur cerpen memiliki jalan yang singkat karena tema cerita yang dikisahkan lebih sederhana.

3. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang terdapat dalam cerita pendek.

Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh dalam karya sastra.

Sifat tokoh bisa tercermin dari sikap, perilaku, ucapan, pikiran, dan pandangannya terhadap suatu hal dalam cerita.

Dalam penggambaran karakter tokoh ada dua teknik:

1. Teknik analitis, karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang.

Contoh: pandai, baik, pembohong, penakut, dan lain sebagainya.

2. Teknik dramatis, karater tokoh diceritakan secara tidak langsung.

Teknik dramatis bisa dilakukan dengan:

  • Penggambaran fisik dan perilaku tokoh
  • Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh
  • Penggambaran bahasa yang digunakan tokoh
  • Pengungkapan jalan pikiran tokoh
  • Penggambaran oleh tokoh lain

Sementara itu, aspek yang digambarkan berupa fisik, sosial, psikologi, dan nilai moral.

4. Amanat

Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang terhadap pembaca.

Amanat disampaikan secara tersirat oleh pengarang dalam isi cerita.

5. Latar

Latar atau setting merupakan gambaran tempat, waktu, dan suasana yang terdapat dalam cerpen.

Latar bisa bersifat faktual atau imajinasi pengarang.

6. Gaya bahasa

Penggunaan gaya bahasa dalam sebuah cerita dapat berfungsi untuk menciptakan nada atau suasana persuasif.

Gaya bahasa juga dapat merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi antartokoh.

7. Sudut pandang

Sudut pandang (point of view) adalah posisi pengarang dalam cerita.

Posisi pengarang dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Sudut pandang orang pertama, penulis berperan langsung sebagai orang pertama sebagai tokoh yang terlibat dalam cerita. Dalam sudut pandang ini pengarang menggunakan sebutan “aku” dan “saya” sebagai tokoh utama.
  2. Sudut pandang orang kedua, penulis menggunakan kata ganti orang kedua misalnya “kamu” untuk tokoh utama ceritanya. Posisi pengarang dalam hal ini berperan sebagai pencerita atau rekan tokoh kamu itu.
  3. Sudut pandang orang ketiga, penulis berperan sebagai pengamat. Dalam hal ini pengarang menggunakan kata “ia”, “dia” atau menggunakan “nama orang”. Pengarang ada di luar seolah menceritakan apa yang terjadi.

Unsur Ekstrinsik Cerpen

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk cerpen dari luar.

Terdapat tiga hal utama dalam unsur ekstrinsik cerpen, yaitu latar belakang masyarakat, latar belakang pengarang, dan nilai-nilai yang terkandung, yaitu:

  1. Latar belakang masyarakat, meliputi kondisi politik, ideologi, sosial, budaya, dan ekonomi.
  2. Latar belakang pengarang, merupakan faktor-faktor yang memengaruhi pengarang untuk membuat cerita pendek. Faktor tersebut berupa riwayat hidup pengarang, psikologi pengarang, dan aliran sastra.
  3. Nilai-nilai yang terkandung, yaitu berupa nilai moral, sosial, pendidikan, religi, etika, ekonomi, dan lain sebagainya.

Fungsi Sastra dalam Cerpen

Terdapat lima fungsi sastra dalam cerpen, berikut penjelasannya:

  1. Fungsi rekreatif, yaitu fungsi yang memberikan hiburan, rasa senang, dan gembira pada pembaca.
  2. Fungsi didaktif, yaitu fungsi yang memberikan pengarahan dan pendidikan kepada pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada di dalamnya.
  3. Fungsi estetis, yaitu fungsi yang memberikan keindahan bagi pembacanya.
  4. Fungsi moralitas, yaitu fungsi yang mengandung nilai moral sehingga pembaca dapat mengetahui moral yang baik dan benar.
  5. Fungsi relegiusitas, yaitu fungsi yang mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi pembacanya.

Itu tadi materi terkait cerpen, mulai dari pengertian, ciri, unsur, struktur, dan fungsi. Semoga materi tersebut memudahkan kalian dalam belajar. Semoga bisa memberikan manfaat. Terima kasih.